Berita Bantul

RSS 2.0 Feed | Berita Lainnya

Kamis Pahing, 21 Feb 2019 16:05 WIB | dibaca (165) | Komentar

Hadapi Tantangan Era Revolusi Industri 4.0, Pemkab Dituntut Sediakan Bandwidth yang Besar

DISKOMINFO - Kehadiran era Revolusi Industri keempat (Revolusi Industri 4.0) sudah tidak dapat dielakkan lagi, di mana teknologi telah menjadi basis dalam kehidupan manusia. Revolusi Industri 4.0 secara fundamental mengakibatkan berubahnya cara manusia berpikir, hidup, dan berhubungan satu dengan yang lain. Era Revolusi Industri 4.0 ini akan mendisrupsi atau menggeser berbagai aktifitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang teknologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial dan politik.

Hal itu disampaikan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Bantul Ir. Fenty Yusdayati, M.T., pada saat pembukaan Workshop Peluang dan Tantangan Pemerintah Kabupaten Bantul di Era Revolusi Industri 4.0 di Hotel Ros In Yogyakarta. Kegiatan workshop ini menghadirkan pembicara utama Prof. Dr. M. Suyanto, M.M., Rektor AMIKOM Yogyakarta dan Dr. Evi Noor Afifah, S.E., M.S.E., dari Fakultas Ekonomi UGM. Dihadiri Kepala OPD, Kadin Bantul, Camat se-Kabupaten Bantul dan sejumlah awak media massa. Kamis (21/2).

Lebih lanjut Fenty mengatakan, istilah Revolusi Industri 4.0 berasal dari sebuah proyek strategis teknologi canggih Pemerintah Jerman yang mengutamakan komputerisasi pada semua pabrik di negeri itu. Pada perkembangannya berikutnya tercatat beberapa hal tentang perkembangan Revolusi Industri yang terjadi sejak abad ke 17 yaitu:

Revolusi Industri 1.0 terjadi pada abad ke 18, ditandai dengan penemuan mesin uap dan kereta api, yang digunakan untuk menggantikan tenaga manusia dan hewan pada proses produksi, Revolusi Industri 2.0 yang terjadi pada abad ke 19 20, ditandai dengan penemuan listrik, alat komunikasi, bahan-bahan kimia, dan minyak. Revolusi pada tahap ini dapat digunakan untuk melaksanakan konsep produksi massal.

Adapun Revolusi Industri 3.0 terjadi pada sekitar tahun 1970an, yang ditandai dengan penemuan komputer, internet, dan telepon genggam. Revolusi industri ketiga ini dapat digunakan untuk otomatisasi proses produksi dalam kegiatan industri, dan kini kita telah memasuki era Revolusi Industri 4.0 yang terjadi pada tahun 2010an yang ditandai dengan rekayasa intelegensia dan Internet of Thing sebagai tulang punggung pergerakan dan konektifitas manusia dan mesin, terang Fenty.

Prof. Suyanto dalam paparannya menyampaikan beberapa pointer terkait pengembangan ekonomi kreatif di era Revolusi Industri 4.0 ini, modal awal adalah tersedianya bandwith yang besar untuk kebutuhan akses internet, tersedianya Sumber Daya Manusia (SDM) yang mumpuni dalam bidang ICT, kolaborasi atau silaturahmi dengan pihak lain dalam pengembangan atau pemasaran produk.

Era Revolusi 4.0 tidak terlepas dari sumbangsih Silicon Valley kepada masyarakat dunia, hampir dipastikan produk ICT berupa perangkat keras komputer seperti micro processor, komputer sistem, perangkat komunikasi baik genggam maupun konvensional, perangkat lunak yang kita pakai sekarang ini produk dari sana, katanya.

Kesuksesan Silicon Valley sebagai produsen teknologi canggih dunia, tidak terlepas dari strategi bisnis pengembang Silicon Valley, dikawasan yang semula tandus itu mampu disulap menjadi pusat manufaktur teknologi canggih dan kawasan studi seperti Universitas Standford, dimana mahasiswanya 70% berasal dari beasiswa dan 30% dari anak orang kaya dunia. Simbiosis mutualisme antara pemilik manufaktur dengan mahasiswa, mampu menggairahkan Silicon Valley dengan produk-produk Hi-tech yang kini digandrungi masyarakat dunia, sebut saja Apple, Windows, Intel dan sebagainya, jelas Prof. Yanto.

Berangkat dari ide Silicon Valley tersebut, Prof. Suyanto dibawah bendera AMIKOM Yogyakarta mampu berbicara di luar negeri dengan produk Film Animasi, tak 70 penghargaan skala Internasional telah berhasil dia sabet. Terkait dengan tantangan dan kesiapan Pemda Kabupaten Bantul, Prof. Suyanto mengajak Pemerintah Kabupaten Bantul untuk menyiapkan sarana dan prasarana ICT, membimbing dengan serius generasi muda yang berkompeten pada dunia komputer atau ekonomi kreatif, dan menjalin kerjasama dengan pihak institusi pendidikan, swasta.

Sementara itu Pembicara kedua Evi Noor Afifah mengatakan, disektor ekonomi telah terlihat pada sektor jasa transportasi, kehadiran taksi dan ojek daring (online) telah menggeser keberadaan taksi dan ojek konvensional. Revolusi Industri 4.0 menyimpan berbagai dampak negatif, diantaranya ancaman pengangguran akibat otomatisasi, kerusakan alam akibat eksploitasi industri, serta maraknya hoax akibat mudahnya diseminasi informasi. Oleh karena itu kunci menghadapi Revolusi Industri 4.0 adalah, selain menyiapkan kemajuan teknologi, di sisi yang lain perlu dilakukan pengembangan sumber daya manusia dari sisi humaniora agar dampak negatif dari perkembangan teknologi dapat ditekan, ucapnya.

Pemerintah telah menyiapkan Road Map Making Indonesia 4.0 sebagai strategi untuk menghadapi dampak Revolusi Industri, ada lima sektor manufaktur yang akan dijadikan pionir yaitu: industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia, dan elektronika. Implementasi Industri 4.0 di manufaktur sangat terkait dengan penyediaan infrastruktur dan teknologi informasi dan komunikasi. Beberapa di antaranya Internet of Thing (IoT), Big Data, Cloud Computing, Artificial Intellegence, Mobility, Virtual dan Augmented Reality, serta sistem sensor dan otomasi, papar Evi.

Adapun di sektor pemerintahan, Reformasi 4.0 ini merupakan gagasan strategi yang dapat diterapkan pada organisasi pemerintah untuk menghadapi era Revolusi Industri 4.0 yang mencakup tiga aspek utama, yaitu kolaborasi, inovasi dan pemanfaatan TIK.

Sementara itu Wakil Bupati Bantul H. Abdul Halim Muslih, dalam sambutan singkatnya mengapresiasi Diskominfo menggagas acara workshop ini, dia mengajak kepada segenap OPD di jajaran Pemkab Bantul untuk tanggap akan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang kini sedang berlangsung memasuki Era Revolusi Industri 4.0, dimana banyak peran tenaga manusia tergeser oleh pemanfaatan ICT ini, contoh yang hangat adalah maraknya demo ojek atau taksi konvensional atas beroperasinya ojek atau taksi daring. Hal ini harus kita sikapi dengan hati yang jernih, dan mampu memberikan solusi yang bijak, begitu pula dengan maraknya HOAX harus kita sikapi pula dengan teliti, jangan sampai menelan mentah-mentah informasi yang tidak jelas sumbernya.

(rachmanto)