Berita Bantul

RSS 2.0 Feed | Berita Lainnya

Sabtu Pon, 26 Jan 2008 12:44 WIB | dibaca (4412) | Komentar

SONGSONG UJIAN NASIONAL (UNAS) 2007/2008. Idham : Pretasi tahun lalu harus dipertahankan Bantul

Untuk menghadapi Ujian Nasional (UNAS) Tahun 2007/2008, Pemerintah Kabupaten Bantul mengadakan Sosialisasi Program Sukses UNAS yang diikuti oleh Camat, Dinas dan Cabang Pendidikan, Kepala Sekolah dari SD/MI sampai SMK/SMA, Dewan Sekolah, Korwas (Koordinator Pengawas) dan Pengawas di Parasamya Bantul, Sabtu (26/1).

Menurut Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantul Drs.H. MRP. Sudarman, DN. MM. dalam laporannya mengatakan pelaksanaan Ujian Berstandar Nasional berdasarkan PP No. 19 Tahun 2005 akan dilaksanakan Untuk SD/MI tanggal 13 15 Mei 2008 dengan peserta 11453 anak, SMP/MTs tanggal 5 8 Mei 2008 dengan peserta 11.016 anak dan SMA/SMK tanggal 22 24 April 2008 dengan peserta 7549 anak. Tujuan dari pelaksanaan acara tersebut untuk mempertahankan keberhasilan Unas seperti tahun 2005/2006 yang terbaik di DIY untuk SMP dan SMA dan terbaik 2006/2007 untuk SMA/SMK. Adapun persiapan yang dilakukan oleh Panitia Songsong UNAS antara lain soaialisasi ke masyarakat, mengadakan les atau tambahan jam mengajar, Try Out, dan memberi motivasi pada siswa dan orang tua.

Bupati Bantul dalam sambutannya mengharapkan prestasi yang telah dicapai tahun lalu harus dipertahankan. Hasil Unas tahun lalu dengan kondisi pasca gempa dengan fasilitas minim kita bisa memperoleh predikat yang membanggakan apalagi sekarang. Kabupaten Bantul dengan jumlah guru S1 terbanyak di Indonesia dan hasil kelulusan yang menanjak secara nyata telah diperhitungkan oleh pemerintah pusat, sehingga banyak perwakilan Bantul yang diminta untuk memberi ceramah dalam beberapa kali seminar.

Dalam kesempatan tersebut juga diadakan dialog antara peserta dengan Bupati, yang menghasilkan keluhan dari pihak sekolah diantaranya tentang Kepala Sekolah Dasar yang harus menyelesaikan administrasi sehingga perlu tenaga TU, Penghargaan untuk sekolah yang berprestasi, Penambahan kuota untuk bantuan sekolah SI dan Penyediaan lapangan olah raga. Bupati Bantul langsung menanggapi positif dan akan dikoordonasikan dengan jajarannya untuk mendapat solusi terbaik. (mawardi)

  • Paula Soegamadikirim Ahad Wage, 27 Jan 2008 11:42 WIB

    Perubahan kurikulum paraturan pendidikan di Indonesia dirubah dengan harapan untuk mewujudkan anak didik dan generasi yang siap pakai di dunia kerja. Tapi, perubahan kurikulum tersebut, malah jadi memberatkan anak didik. Bayangkan saja, mau masuk S.D., sudah harus bisa baca tulis..!!! Padahal T.K. adalah masa si anak bermain mengembangkan nalar dan jiwa sosial. Ketentuan kelulusan UNAS juga justru mengakibatkan anak didik bunuh diri hanya karena tidak lulus..!!! Sementara pola pengajaran masih sistem Dikte a la Bela nda..!! Anak didik tidak diajarkan untuk mengembangkan pola pikirnya sendiri. Yaa tidak heran kalau akhirnya muncul istilah.."Sarjana Baru,Pengangguran Baru..!!!"

  • Paula Soegamadikirim Ahad Wage, 27 Jan 2008 11:50 WIB

    Pendidikan di Indoensia sepertinya masih bernafaskan Orde Baru. Mulai dari tingkat S.D. sampai Perguruan Tinggi. Pola pendidikan formal di Indonesia melahirkan generasi yang berjiwa 'manutan' dan berwatak 'Yes Man.' Tidak membuat peserta didik menjadi sosok yang Kreatif, Smart, dan Inovatif. Sebenranya bukan kurikulum atau bobot pelajarannya yang ditambah, tapi Pola Pendidikannya yang harus dirubah..!!! Biarpun mata pelajarannnya canggih, tapi kalau cara mendidiknya masih gaya kompeni, yaa tetap saja melahirkan generasi berwatak 'abdi', bukan berwatak 'pemimpin'. Kesejahteraan Guru juga harus mandapat jaminan penuh dari pemerintah. Heran ya, anggota DPR yang cuma bisa "Ndobos" dapat tunjangan puluhan juta, sementara Guru para pendidik gajinya setara dengan tarif pelacur kelas atas..!!! Gimana tuh Pemerintah..???

  • om Bertusdikirim Senin Kliwon, 28 Jan 2008 14:09 WIB

    Konon ada tiga pilar pendidikan, yaitu sekolah, lingkungkan masyarakat dan orang tua. Nah menurut saya, apapun yang terjadi peran orang tua sangat dominan terhadap perkembangan anak-anaknya. Dan itu memang sudah menjadi tugas dan peran orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Kita tak bisa mengandalkan sekolah seutuhnya dalam mengembangkan sikap, kecerdasan dan kepribadian anak-anak kita. Sejak dalam kandungan, mulailah peran orang tua mendidik anaknya sejak dini. Nah menurut saya, kita sebagai orang tualah harus mampu menjadi sosok teladan bagi anak-anaknya. Orang tua harus bisa menjadi teladan dan sosok panutan , sosok idola bagi anak-anaknya. Buah tak jauh dari pohonnya, bukankah begitu?? Syalom.

  • Madame de Syugadikirim Rabu Pahing, 30 Jan 2008 02:57 WIB

    Boleh aja sih kata Oom Bertus. Tapi hari gini, mana ada orangtua yang bisa mengawasi anak-anaknya selama 24 jam full..!!! Semuanya bekerja. Bisa saja orangtua nya adalah orang baik baik, tapi anak anaknya hancur. Saya rasa justru pergaulan anak anak yang harus diawasi. Jangan sampai si anak salah bergaul. Banyak kejadian nyata, anak anak dari keluarga terhormat,orangtua sukses, bahkan terpandang, eehhh si anak malah narkoba-lah, seks bebas lah, pokoknya hancurrr..Emang susah jadi orangtua jaman sekarang.

  • s wahyudidikirim Kamis Pon, 31 Jan 2008 11:10 WIB

    Kata Ranggawarsita: "wong bodho dadi pangane wong pinter" saya mathuk engkas. Mana ada sekolah yang alumnusnya siap pakai? sekolah hanyalah suatu sistem untuk menekploitasi anak didik, mengekplorasi "kemamampuan" orang tua dan mengalokasikan tenaga kerja. Jadi untuk dapat menciptakan insan yang mampu berpikir bagaimana caranya berpikir dan mampu hidup bagaimana caranya hidup, jangan harapkan hanya dari sekolah saja. Pola pendidikan ala USA seperti sekarang ini memang untuk membuat "robot" terprogram, bukan membangun manusia seutuhnya ( mulane hasile yo ting cruwil, compang-camping ora wutuh), UNAS memberikan peluang untuk melakukan manipulasi, mendidik korupsi, budaya short cut, mekaten.

  • S. Wahyudidikirim Kamis Pon, 31 Jan 2008 11:24 WIB

    Matur wonten ngarsanipun Kanjeng Adipati: Based on the ISCED (1977 and updated 1997) published by UNESCO, SMA punika dipun rancang (designed) supados lulusanipun nglajengaken pasinaonipun wonten pawiyatan luhur kadosta: sertifikasi ketrampilan, utawi diploma keahlian; nembe menawi lulus saking pawiyatan punika "siap pake" utawi mlebet S1 (under graduate) lulus "setengah saget pake" lanjut dateng S2 (graduate) "radi siap pake" lha menawi sampun lulus S3 (post graduate) nembe "siap pake" pinangka tenaga ahli.

  • S. Wahyudidikirim Kamis Pon, 31 Jan 2008 11:44 WIB

    Gandheng bea wonten pawiyatan luhur punika kangge sebageyan ageng kawula mBantul klebet awis, in my hard opinion is short cut to create and produce skilled man power, go ahead wit your program to establish more SMK now being planned. Karono SMK mekaten dipun rancang lulusanipun siap pake wonten "peken karyo", sumangga dipun paringi pawitan ingkang mirunggan kangge praktek, sae teknologi informasinipun( kalebet hardware & software-ipun), jejaring TI, sarana & prasarana fisik-ipun etc.etc. dados SMK ingkang go international & go publics. Saengga slogan: inilah mmmBantullll, pusat tenaga trampil yang anda perlukan! everywhere bilamana perlu dirikan pendidikan ilmu terapan: college, academie or istitute of education yang siap pake, mekaten lepat nyuwun pangapunten.

  • luqman chakimdikirim Ahad Legi, 9 Mar 2008 19:04 WIB

    saya minta tolong dong!!bagaimana solusinnya menghadapi UNAS utk siswa SMP?agar saya bisa menghadapi UNAS dengan baik!pliss!!!.

  • NAIYAdikirim Kamis Pahing, 20 Mar 2008 10:23 WIB

    Tolong kirim kisi-kisi beserta soal dan jawaban tentang UNAS SMK tahun 2008, sebelumnya terima kasih. segera kirimkan coz kami tunggu secepatnya.

  • AGNESSYAdikirim Rabu Legi, 28 Mei 2008 19:28 WIB

    Tolong kirim pengumuman kelulusan SMP th.2008 wilayah Trenggalek