Warga Bantul Beri Ambulance untuk Supiturang, Tanamkan Gotong Royong dan Empati

Ketika erupsi Gunung Semeru kembali terjadi di sepanjang akhir 2022 hingga awal 2023, Kabupaten Lumajang menjadi salah satu wilayah terdampak. Terletak di lereng Semeru, Lumajang yang biasa menyimpan bentang pesona alam tertutup abu vulkanik pekat. Sejumlah bangunan maupun infrastruktur lain rusak. Aktivitas masyarakat terhambat.

Relawan Kabupaten Bantul yang tergabung dalam FPRB, segera meluncur ke lokasi untuk memberi bantuan. Bantuan ini tidak berhenti secara fisik maupun logistik. Relawan dan warga Bantul menyadari betul, Lumajang dan Bantul sama-sama memiliki potensi bencana yang dapat terjadi kapan saja. Bantul yang pernah mengalami gempa hebat 17 tahun silam, semakin disadarkan betapa pentingnya mitigasi bencana.

Atas dasar empati tersebut, warga Bantul melalui FPRB melakukan penggalangan dana yang kemudian diwujudkan dalam bentuk mobil siaga atau ambulance untuk Kalurahan Supiturang, Pronojiwo, Lumajang. Pemberian ambulance ini diharapkan menjadi salah satu bentuk kesiapsiagaan apabila Semeru yang juga dinobatkan sebagai gunung tertinggi di Pulau Jawa memuntahkan isi perutnya sewaktu-waktu.

"Kami berharap, apa yang diberikan warga Bantul dan relawan ini benar-benar bermanfaat dan membantu warga di Supiturang," ujar Ketua FPRB Bantul, Waljito saat penyerahan bantuan di Rumah Dinas Bupati Bantul, Sabtu (3/6/2023).

Sementara itu, Kepala Desa Supiturang, Nurul Yakin Pribadi, berterima kasih atas pemberian ambulance bagi warga Supiturang, mengingat desa ini termasuk wilayah yang terdampak paling parah. Tak hanya itu, ia berharap apa yang dilakukan warga Bantul ini bisa mempererat hubungan persaudaraan antara Bantul dan Lumajang.

Hal tersebut juga diamini Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. Menurutnya, rasa gotong royong dan empati warga Bantul adalah bukti bahwa kemanusiaan harus diterapkan di mana saja dan kapan saja.

"Bantuan ini murni dari warga Kabupaten Bantul. Semoga hubungan persaudaraan antara Bantul dan Lumajang semakin erat. Empati, rasa gotong, harus senantiasa kita pupuk mengingat kita sama-sama memiliki potensi bencana di sekitar kita," pungkas Halim. (Els)

 

 

Berbagi:

Pos Terbaru :