Gempa Pacitan 6,2 SR Guncang Bantul, Pemkab Prioritaskan Penanganan Pascabencana

Gempa bumi berkekuatan 6,2 SR terjadi pada Jumat (6/2/2026) pada pukul 01.06 WIB dini hari. Pusat gempa berada di selatan Pacitan, Jawa Timur, pada kedalaman 58 km. Gempa tersebut dirasakan cukup kuat hingga wilayah Kabupaten Bantul dan sekitarnya.

Sebelumnya, gempa ini sempat dilaporkan berkekuatan 6,4 SR. Namun setelah dilakukan analisis lebih lanjut oleh BMKG, magnitudo diperbarui menjadi 6,2 SR. Hingga hari ini tercatat telah terjadi 21 kali gempa susulan dengan aktivitas kegempaan yang menunjukkan tren menurun, di mana intensitas dan frekuensi gempa susulan semakin melemah.

Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul,  Agus Budirahaja, menyampaikan bahwa berdasarkan laporan sementara dari BPBD Kabupaten Bantul, dampak gempa tersebut di Bumi Projotamansari mengakibatkan 20 titik kerusakan infrastruktur. Kerusakan tersebut meliputi 11 rumah warga, 2 tempat ibadah, serta 4 fasilitas pemerintah dengan kategori kerusakan ringan. Kerusakan paling parah dilaporkan terjadi pada Gedung Samsat Bantul. Selain itu, terdapat 2 fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan, yakni SD Negeri 1 Jetis dan SMP Negeri 1 Jetis.

Dari sisi korban, hingga saat ini teridentifikasi sebanyak 31 orang mengalami luka-luka. Dari jumlah tersebut, 8 orang menjalani perawatan inap, sementara 23 orang lainnya menjalani rawat jalan. Para korban mendapatkan penanganan medis di RSUD Panembahan Senopati, RS PKU Muhammadiyah Bantul, RS Saras Adyatma, serta sejumlah rumah sakit, puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya.

Menanggapi kondisi tersebut, Agus menghimbau kepada BPBD Kabupaten Bantul dengan dukungan Kodim dan Polres untuk terus melakukan pendataan dan identifikasi secara menyeluruh terhadap dampak gempa, baik kerusakan infrastruktur maupun korban terdampak, agar data yang dihimpun semakin akurat dan tidak ada yang terlewat.

Lebih lanjut, Agus juga menekankan pentingnya edukasi kebencanaan kepada masyarakat secara berkelanjutan. Kabupaten Bantul berada di wilayah yang dipengaruhi oleh aktivitas Sesar Opak sehingga masyarakat perlu dibekali pemahaman mitigasi bencana agar tidak panik saat terjadi gempa.

“Dari hasil evaluasi sementara, korban luka yang terjadi bukan disebabkan oleh runtuhan bangunan, melainkan akibat kepanikan saat melakukan penyelamatan diri tanpa dibekali edukasi yang memadai. Oleh karena itu, pemahaman mengenai jalur evakuasi, titik kumpul, serta langkah penyelamatan diri menjadi sangat penting untuk meminimalkan korban saat bencana terjadi,” jelasnya.

Sebagai bentuk kehadiran pemerintah, Sekda menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Bantul akan menanggung biaya perawatan korban gempa. Pemerintah memastikan seluruh korban luka yang masih menjalani perawatan di rumah sakit tetap mendapatkan pelayanan medis secara optimal tanpa perlu khawatir mengenai biaya. Penanganan ini dilakukan melalui koordinasi antara Dinas Kesehatan, Jamkesda, serta Dinas Sosial.

Selain penanganan korban, Pemerintah Kabupaten Bantul juga memprioritaskan pemulihan infrastruktur layanan publik yang terdampak gempa. Untuk fasilitas pendidikan yang mengalami kerusakan dan berpotensi mengganggu proses belajar mengajar, BPBD bersama Dinas Pekerjaan Umum akan segera melakukan pendataan dan penghitungan tingkat kerusakan.

Langkah tersebut dilakukan agar proses perbaikan dapat segera dilaksanakan, sehingga layanan pendidikan tidak terhenti dan aktivitas belajar mengajar dapat kembali berjalan normal pasca peristiwa gempa bumi. (ADS)

Berbagi:

Pos Terbaru :