Barman (75), petani asal Sriharjo, Imogiri, Bantul, nampak bersemangat berada di barisan bregada tani dalam upacara adat Mapag Toya yang diselenggarakan Kalurahan Sriharjo, Kamis (4/6/2026). Barisan ini berjalan tertib di belakang kirab bregada prajurit dan rombongan Wakil Bupati Bantul yang bersiap membuka pintu air sebagai rangkaian Mapag Toya.
“Sudah ada sejak tahun 2013. Saya ikut dari awal. Ini bermula dari keresahan kita semua karena waktu itu irigasi untuk pertanian kotor sekali. Banyak sampah. Terutama sampah plastik,” tutur Barman.
Keberadaan sampah pada saluran irigasi, sebagaimana yang disampaikan Barman beserta petani lain, sangat mengganggu produktivitas pertanian. Air kotor berdampak pada pertumbuhan padi dan menyebabkan hasil panen tidak optimal.
“Panen jadi jelek. Itu kalau padi. Kalau melon? Nggak bisa melon diberi irigasi dengan air kotor,” imbuh Barman.
Adanya Mapag Toya, menjadi secercah harapan bagi petani untuk senantiasa mendapatkan irigasi bersih yang sangat mereka butuhkan dalam dunia pertanian. Pula, pada tahun ini upacara adat Mapag Toya bertepatan dengan Gerakan Air Bersih (GIB) Tirta Amartani Kabupaten Bantul ke-13.
“Ini nanti juga ada sarasehan gerakan irigasi bersih dengan narasumber Prof. Sigit Supatmo Arif. Materi sarasehan juga dikaitkan dengan dengan perubahan iklim agar petani paham dan kita sama-sama tahu bagaimana menghadapi perubahan iklim, lalu bagaimana meresponsnya dalam dunia pertanian,” ujar Lurah Sriharjo, Titik Istiyawatun Khasanah.
Titik menambahkan, terkhusus Mapag Toya, ada beberapa filosofi maupun nilai yang dibawa. Mulai dari prosesi kirab menuju pintu air, pemotongan tumpeng, hingga doa bersama, semuanya bermuara pada harapan yang sama, yakni kelancaran dalam bertani dan mendapat hasil pertanian melimpah.
“Mapag Toya itu, resik irigasine lan resik atine. Ini kan permulaan awal petani mengolah tanah yang tentu membutuhkan air, lalu lanjut ke proses berikutnya. Harapannya Tuhan Yang Maha Esa memberi kelancaran, memberi kesuburan, dan petani kita mendapat hasil melimpah,” pungkas Titik. (Els)




