Ratusan siswa sekolah dasar perwakilan tiap kapanewon di Kabupaten Bantul nampak antusias berkumpul di Lapangan Ringinharjo, Rabu (17/6/2026). Masing-masing perwakilan tengah bersiap mengikuti Festival Permainan Tradisional Kabupaten Bantul tahun 2026 yang diinisiasi oleh Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI).
“Ayo tinggalkan dulu gadget (gawai), saatnya bermain! Karena sejatinya, dunia anak-anak memang dunia bermain,” tutur Ketua Penyelenggara Festival Permainan Tradisional, Yohanes Ariyanto.
Tahun ini, ada tiga jenis permainan tradisional yang dipertandingkan, yakni bakiak, gobak sodor, dan egrang. Menurut Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang membuka Festival Permainan Tradisional, ada banyak manfaat yang didapat dari kegiatan ini. Sebagai salah satu pendiri KORMI di Kabupaten Bantul, Aris menerangkan bahwa permainan tradisional patut dilestarikan oleh generasi muda karena nilai yang dibawa masih relevan hingga kini.
“Ini adalah warisan nenek moyang yang tidak boleh dilupakan, perlu dijaga. Permainan tradisional ini mencerminkan gotong royong, kebersamaan, dan kedisiplinan. Saya juga berpesan kepada peserta agar tidak mengikuti festival ini semata-mata karena mengejar juara. Harus jaga sportivitas, kekompakan,” ujar Aris.
Selain itu, permainan tradisional yang dilombakan turut mendukung motorik anak, kelincahan fisik, maupun ketangkasan. Pada lomba egrang, misalnya. Tidak hanya seru, egrang juga melatih fisik dan mental. Permainan tradisional ini efektif mengembangkan keseimbangan tubuh, serta memperkuat otot tangan dan kaki.
Atau dalam permainan gobak sodor. Permainan ini menuntut kerja sama tim, mengasah kemampuan berpikir strategis, hingga menanamkan nilai-nilai karakter seperti kejujuran dan disiplin.
Sepanjang permainan, sorak-sorai penonton di pinggir lapangan menambah kemeriahan festival. Hal ini menunjukkan bahwa antusias masyarakat terhadap permainan tradisional belum surut. Antusias ini sejalan dengan jargon atau salam KORMI, yakni Sehat Bugar Gembira Luar Biasa!. (Els)




