Suasana Tempo Dulu Kembali Hadir di Pasar Lawas Mataram 2026

Jika menilik ke kawasan Masjid Gedhe Mataram yang terletak di Kalurahan Jagalan, Banguntapan selama tiga hari kedepan, yakni pada 25–27 September 2026, kita akan disuguhi pemandangan yang tak biasa. Sebab, kita akan diajak bernostalgia sekaligus mengingat kembali berbagai kekayaan budaya lokal melalui kuliner tradisional, permainan tempo dulu, pakaian, dan seni pertunjukan yang dikemas dalam gelaran Pasar Lawas Mataram 2026. 

Pembukaan hari pertama Pasar Lawas Mataram 2026 dihadiri langsung oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih. Dalam sambutannya, beliau menekankan pentingnya kebudayaan sebagai penanda eksistensi suatu bangsa dan komunitas.

Menurut Bupati, kebudayaan memiliki cakupan yang luas, mulai dari karsa, cipta, hingga karya. Identitas suatu masyarakat dapat dikenali melalui bahasa, makanan, pakaian, cara berbicara, adat istiadat, hingga tata kehidupan sosial.

"Kebudayaan itu penanda eksistensi sebuah bangsa, sebuah komunitas. Kebudayaan itu cakupannya luas, ada karsa, ada cipta, ada karya," tutur Bupati saat membuka Pasar Lawas Mataram, Jumat (25/09/2026). 

Ia mencontohkan semakin banyaknya generasi muda yang tidak mengenal makanan tradisional seperti kipo, cenil, kimpul, jenang gempol, dan ongol-ongol. Di sisi lain, makanan seperti burger, pizza, dan sushi semakin akrab dengan kehidupan masyarakat.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi tantangan bagi keberlangsungan identitas budaya lokal apabila tidak diimbangi dengan upaya mengenalkan dan melestarikan budaya kepada generasi muda.

"Kalau semuanya sama, makanannya burger, pizza. Orang Jawa, makanannya burger, pakaiannya niru. Terus kita ini punya penanda apa? Eksistensi kita ini hilang tandanya, apa enggak bahaya itu?" ujarnya.

Bupati mengatakan kebudayaan tidak hanya berkaitan dengan kesenian, tetapi juga mencakup bahasa, makanan, pakaian, cara berkomunikasi, adat istiadat, sopan santun, serta nilai sosial seperti gotong royong dan kerukunan.

Karena itu, ia mengapresiasi penyelenggaraan Pasar Lawas Mataram yang dinilai menjadi salah satu bentuk upaya generasi muda dalam menjaga keberlangsungan budaya lokal.

"Maka di sinilah pentingnya kita nguri-uri kebudayaan. Adik-adikku, kalian harus tahu penanda eksistensi kita, kebudayaan kita, simbah-simbah kita, bapak kalian, eyang kalian, itu dulu makanannya apa? Ya cenil, ya kimpul, ongol-ongol," katanya.

Ia juga memberikan apresiasi kepada anak-anak muda Jagalan, yang secara konsisten menggelar Pasar Lawas Mataram hingga memasuki tahun ketujuh.

"Saya sangat bersyukur dan bangga. Kawan-kawan, anak-anak muda Jagalan luar biasa. Pokoknya kalian top. Ini satu jihad kebudayaan yang harus terus ada," kata Bupati.

Pasar Lawas Mataram 2026 mengangkat tema "Momong, Momor, Momot", sebuah semangat yang mencerminkan keterbukaan, keterlibatan, dan kebersamaan dalam penyelenggaraan kegiatan.

"Momong" dimaknai sebagai ngemong atau mengayomi semua pihak yang hadir dan terlibat, mulai dari panitia, pedagang, hingga pengunjung.

Sementara "momor" berarti nyrawungi dan ngaruhke, yakni hadir, berbaur, serta melibatkan berbagai pihak dalam kegiatan. Adapun "momot" bermakna kemampuan untuk menampung berbagai usulan, kritik, maupun solusi.

Tema tersebut menjadi landasan penyelenggaraan Pasar Lawas Mataram agar tidak hanya menjadi ruang transaksi ekonomi, tetapi juga ruang perjumpaan masyarakat.

Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, mengatakan Pasar Lawas Mataram diharapkan dapat berkembang menjadi ikon kegiatan budaya yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

"Semoga Pasar Lawas Mataram ini bisa menjadi satu ikon event yang kemudian tidak hanya memberikan nostalgia masa lalu pada saat-saat tertentu, tetapi juga memberikan dampak," katanya.

Menurut Dian, salah satu dampak yang diharapkan adalah terbentuknya hubungan berkelanjutan antara pelaku UMKM dan perajin yang terlibat dalam Pasar Lawas Mataram dengan konsumen maupun pihak lain di luar kegiatan.

"Kami berharap dari Pasar Lawas ini, meskipun hanya terbatas waktunya, mungkin ada kontak-kontak berikutnya yang langsung terjalin antara para perajin UMKM yang ada di Pasar Lawas Kotagede," ujarnya. (Fza)

Berbagi:

Pos Terbaru :