Kehidupan masyarakat saat ini merupakan warisan peradaban yang dibangun oleh para leluhur terdahulu. Demikian pula dengan kehidupan masyarakat di Kabupaten Bantul yang tidak dapat dilepaskan dari jejak dan nilai-nilai peradaban yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal tersebut disampaikan oleh Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, dalam acara Peringatan Perdikan Mangir yang berlangsung di Dusun Mangir, Sendangsari, Pajangan, Minggu (27/9). Di bawah rimbunnya pepohonan di kawasan Mangir, Halim mengajak masyarakat untuk memahami bahwa kehidupan yang berlangsung saat ini merupakan bagian dari perjalanan panjang peradaban yang telah ada sebelumnya.
Kabupaten Bantul, khususnya daerah Mangir, mewarisi nilai-nilai positif dari para leluhur termasuk Ki Ageng Mangir. Warisan tersebut menjadi bagian penting dalam membentuk kehidupan masyarakat Bantul hingga saat ini.
Menurut Halim, salah satu nilai penting yang diwariskan para leluhur adalah peradaban harmoni dan keselarasan. Nilai tersebut menjadi penting karena masyarakat hidup dalam keberagaman, baik dalam latar belakang, pemikiran, maupun kehidupan sosial.
“Salah satu peradaban penting yang ditinggalkan oleh Ki Ageng Mangir dan para leluhur kita, adalah peradaban harmoni, keselarasan. Mengapa harus selaras? Karena kita sadar, kita ini berbeda-beda. Kalau ini tidak diselaraskan, yang ada hanya konflik,” jelasnya.
Dalam perjalanan sebuah bangsa, kebudayaan lahir dan berkembang di dalam peradaban. Kebudayaan kemudian menjadi penanda eksistensi sekaligus identitas spesifik suatu bangsa. Hal tersebut tercermin dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat, mulai dari cara berpakaian, tradisi, hingga tata kehidupan sosial.
Karena itu, pelestarian kebudayaan menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan peradaban. Halim juga menyebut sejumlah tokoh yang turut memberikan kontribusi dalam perjalanan peradaban di Bantul, mulai dari Ki Ageng Mangir, Sultan Agung, Sumodiningrat, hingga Diponegoro. Menurut Halim, tokoh-tokoh tersebut merupakan satria yang memiliki peran dalam membentuk dan mewariskan nilai-nilai kehidupan.
“Dan satria-satria zaman dulu ini orang-orang hebat, yang menyeimbangkan dua hubungan. Satu hubungan kepada Tuhan, dan yang kedua para satria itu juga menyelaraskan hubungan antar umat manusia. Jadi menyeimbangkan hubungan vertikal dan hubungan horizontal,” jelasnya.
Nilai tersebut, lanjut Halim, menjadi bagian dari tanggung jawab generasi saat ini sebagai pewaris peradaban dan kebudayaan. Warisan leluhur tidak cukup hanya dikenang, tetapi perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui hubungan yang baik dengan Tuhan Yang Maha Kuasa maupun dengan sesama manusia.
“Oleh karenanya kita sebagai pewaris peradaban ini, pewaris kebudayaan ini, juga semestinya dan seharusnya memperbaiki dua hubungan itu, kepada Tuhan Yang Maha Kuasa dan kepada sesama umat manusia,” pesan Halim.
Melangkah lebih jauh dari pesan membawa keharmonisan, ia meneruskan agar masyarakat juga melestarikan ajaran memayu hayuning bawono sehingga semangat tolong menolong tetap hidup di dalam kehidupan bermasyarakat. (Hahn)





