Dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-271 Daerah Istimewa Yogyakarta, Pemerintah Kabupaten Bantul menggelar upacara di Halaman Pendopo Parasamya pada Jumat (13/3/2026). Dalam kesempatan ini para peserta mengenakan pakaian adat Jawa Gagrak Ngayogyakarta, menegaskan keistimewaan DIY.
Melalui tema “Mulat Sarira, Jumangkah Jantraning Laku,” momentum peringatan Hari Jadi ke-271 DIY dimaksudkan untuk memperkuat semangat refleksi diri sebagai dasar menjalani dinamika kehidupan.
Dalam sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja, Sri Sultan Hamengku Buwono X menjelaskan bahwa nilai mulat sarira menekankan pentingnya introspeksi dalam setiap langkah kehidupan, yang dijalani dengan penggemblengan cipta, rasa, dan karsa.
“Semua itu tidak lain merupakan kewajiban untuk menunaikan dharma pengabdian kepada negeri bagi para pemimpin pemerintahan dan seluruh warga di Daerah Istimewa Yogyakarta,” tuturnya.
Ngarso Dalem juga berpesan untuk melaksanakan wejangan Sri Sultan Hamengku Buwana I. Salah satunya adalah ajaran bahwa keutamaan seseorang terletak pada perilaku yang dilandasi kasih sayang dan keharmonisan. Setiap unsur harus berjalan selaras, tidak saling mendominasi, dan mengikuti irama. Wejangan tersebut, lanjutnya, tidak boleh hanya dipahami sebagai serangkaian kata tetapi diwujudkan dalam tindakan sehari-hari.
Nilai “Sawiji, Greget, Sengguh, Ora Mingkuh” yang menjadi dasar karakter “Satriya” dalam penyelenggaraan pemerintahan di DIY juga merupakan warisan Sri Sultan HB I. Melalui nilai tersebut, setiap individu diharapkan memiliki tekad yang kuat, sikap pantang mundur dalam menjalankan tugas bagi bangsa dan negara, serta mampu menyatukan kerja dan pemikiran demi mewujudkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam momen tersebut juga dibacakan sejarah singkat berdirinya DIY yang diawali dari perjuangan Pangéran Mangkubumi melawan ketidakadilan dalam kerajaan Mataram dan intervensi VOC. Dari perjuangan tersebut tercapailah kesepakatan Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755 yang membagi Mataram dan mengukuhkan Pangéran Mangkubumi sebagai Sri Sultan Hamengkubuwana I. Dari situlah kemudian lahir Keraton Yogyakarta yang selanjutnya berkembang menjadi DIY. (Hahn)





