Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Rasa Syukur dan Penghormatan pada Hasil Bumi

Di bawah terik matahari yang menyorot dengan intensitas tinggi pada pukul satu siang, jodhang-jodhang alias papan pembawa ubarampe diarak beramai-ramai di sepanjang pesisir Pantai Parangtritis. Sengat panas itu tidak hanya berasal dari atas, tapi juga dari pasir hitam bersuhu tinggi karena sifatnya yang menyerap panas ketika memasuki tengah hari.

Kendati diterpa hawa panas, arak-arakan ubarampe yang berangkat dari Joglo Parangtritis itu tidak kendat. Para pengangkut dan pengantar jodhang, baik yang tua maupun muda, yang berbusana adat hijau atau merah, yang membalut diri dengan busana prajurit atau topeng ganong, menyiratkan antusiasme yang sama. Menjelang prosesi labuhan, peserta kirab bahkan melepas alas kaki, sepanas apapun pasir yang mereka injak. Semangat inilah yang ditunjukkan ratusan warga Mancingan, Parangtritis, Bantul, dalam upacara Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri, Selasa (12/5/2026).

Bagi warga Mancingan, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri bukan sekadar penggugur agenda tahunan. Bukan pula karena disorot publik pascaditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda di tingkat nasional. Ini adalah bentuk syukur kepada Sang Pencipta, penghormatan pada alam atas hasil bumi dan laut yang telah mereka terima, serta harapan agar terhindar dari malapetaka.

“Kami sudah lakukan ini bertahun-tahun. Dimulai oleh pendahulu kami sejak tahun 1989,” ujar tokoh masyarakat Mancingan, Suraji.

Bukan cuma ritual. Upacara ini juga menggambarkan gotong royong warga, atau bagaimana tepa selira masih dipegang kuat oleh warga Mancingan. Nilai-nilai ini tidak hanya diterapkan ketika acara puncak upacara, melainkan juga pada prosesi sebelumnya seperti kenduri, makan bersama, doa, dan kirab budaya.

Nilai-nilai luhur ini pula yang menurut Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, sejalan dengan semangat pembangunan Kabupaten Bantul, yakni mewujudkan kehidupan masyarakat yang berbudaya, berdaya, dan berkelanjutan.

“Dalam konteks ini, Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri bukan hanya pelestarian budaya yang jadi tanggung jawab pelaku budaya. Ini tanggung jawab kita bersama. Karena kawasan Parangtritis ini tidak hanya memiliki kekayaan alam yang luar biasa, tapi juga kekayaan budaya yang punya daya tarik tersendiri,” ujar Aris.

Daya tarik ini pula yang menjadikan Bekti Pertiwi Pisungsung Jaladri jadi salah satu magnet pariwisata baru. Banyak masyarakat maupun warga berkerumun, turut mengekor kirab di belakang. Mereka sabar menanti prosesi upacara sampai rampung. Beberapa tetap tinggal di bibir pantai untuk merayah ubarampe pasca dilarung ke laut.

“Ini yang kami maksud sebagai pariwisata berbasis budaya dan keramaian. Daya tarik budayanya kuat. Sehingga mengundang keramaian dan menghidupkan UMKM sekitar,” imbuh Aris. (Els)

Berbagi:

Pos Terbaru :