Temu Kangen PPPK Paruh Waktu Guru terdatabase BKN dilaksanakan di Aula Kompleks Pemda II Manding, Bantul, pada Sabtu (11/7/2026). Diikuti oleh ratusan guru dari seluruh Kabupaten Bantul yang merupakan tenaga kependidikan terdatabase BKN yang saat ini sudah diangkat menjadi PPPK Paruh Waktu.
Ketua Penyelenggara, Ahmad Bahrul mengucapkan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Bantul karena telah mengangkat para honorer R2 dan R3 terdatabase BKN tanpa tersisa untuk menjadi PPPK Paruh Waktu. Dirinya juga menyampaikan ucapan terima kasih berkaitan dengan kesejahteraan yang telah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.
“Selanjutnya, ucapan terima kasih juga kami sampaikan berkaitan dengan kesejahteraan yang kami dapatkan, mulai dari gaji UMR terbaik se-Indonesia. Hal ini tidak lepas dari peran serta Pemerintah Kabupaten Bantul untuk menuntaskan P3K Paruh Waktu ini agar semuanya sejahtera,” lanjut Ahmad.
Terkait kesejahteraan, Ketua PGRI Bantul, Totok Sudarto memohon doa karena saat ini PGRI secara berjenjang sedang berjuang agar di Indonesia hanya ada dua status kepegawaian yaitu PNS dan pegawai swasta. Saat ini usulan tersebut sudah ditanggapi oleh Komisi II dan Komisi X DPR RI, dan sedang digodok untuk dilakukan perubahan Undang-Undang ASN.
Sementara itu, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih mengatakan bahwa pendidikan merupakan sektor wajib dan dasar, sehingga setiap warga negara Indonesia harus mendapatkan pelayanan pendidikan. Ia juga menyebut, Pemerintah Kabupaten Bantul melalui Dinas Pendidikan dan Olahraga mendapatkan penghargaan sebagai daerah yang memberikan pembiayaan pendidikan paling tinggi di Indonesia.
“Pendidikan ini memang harus kita kawal, kita amankan, karena kita menginginkan anak cucu kita menjadi lebih hebat. Jangan sampai anak cucu kita menjadi korban dari kelemahan sistem pendidikan kita,” ucap Halim.
Dirinya juga mengajak para guru untuk memperbaiki sistem pendidikan saat ini.
“Marilah kita perbaiki kurikulum kita tanpa mengurangi rasa hormat kepada para guru terdahulu. Kita harus memperbaiki kelemahan sistem, termasuk kurikulum di masa lalu,” tegas Halim. (Pg)




