Bupati Bantul Suharsono mengungkapkan, bencana Gempa Bumi yang melanda Bantul sepuluh tahun yang lalu tidak membuat rakyat lemah. Namun kejadian tersebut malah menyadarkan masyarakat akan budaya gotong royong, sehingga tempat tinggal yang porak poranda cepat kembali dan lebih baik. Juga semangat bangklit dan rasa kebersamaan kemabali timbul di hati masyarakat.
saat ini mayoritas warganya sudah sadar berada di daerah rawan gempa. Meski demikian, peringatan seperti ini harus tetap dilakukan untuk mengingatkan anak cucu tentang peristiwa yang terjadi.
"Anak-anak akan tahu dengan sendirinya (tentang bahaya gempa). Ini bisa menjadi edukasi," katanya Kamis (26/5/2016).
Ia mengatakan, saat penanganan gempa 2006 belum ada koordinasi yang baik. Seperti lambatnya evakuasi dan penanganan korban. Sehingga berkaca dari kejadian tersebut, seluruh pihak tak terkecuali Pemkab telah banyak belajar. Tujuannya agar penanganan dampak bencana segera teratasi. Juga, penyaluran bantuan tepat sasaran sesuai dengan kebutuhan warga.
Sementara Kepala Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul, Drs. Dwi Daryanto, M.Si. melaporkan gempa bumi telah menyadarkan semua wakyat bahwa negara Indonesia daerah bencana. Bencana tersebut telah menggerakkan berbagai negara untuk memberi bantuan. Dalam membangun kembali tembat tinggal masyarakat menerapkan kearifan lokal.
Tujuan dari diadakannya refleksi gempa untuk mengenang kejadian yang pernah melanda Bantul khususnya dan Yogyakarta pada umumnya. Hal ini akan menyadarkan kepada semua masyarakat yang setiap saat hatus selalu siaga. (mw)