Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Disnaketrans Kabupaten Bantul Susanto, SH, MM. "Pihaknya selama ini terus melakukan sosialisasi dan pengawasan ke perusahaan besar maupun kecil yang ada di Kabupaten Bantul supaya tidak mempekerjakan anak dibawah umur," terangnya.
Berdasar dari hasil pengawasan, kata Susanto, untuk di perusahaan besar belum ditemukan pekerja dibawah umur. Perusahaan dalam penerimaan karyawan telah melakukan seleksi secara ketat, termasuk menyangkut umur minimal yang bisa diterima menjadi karyawan. "Tapi di perusahan kecil, industri rumahan masih ditemui pekerja anak dan biasanya masih ada hubungan keluarga," katanya kemarin lusa.
Menurut Susanto, pemerintah melalui Program Pengurangan Pekerja Anak dalam rangka mendukung Program Keluarga Harapan (PPA-PKH) telah melakukan penarikan pekerja anak untuk bisa kembali ke sekolah. Dari data yang dimiliki, pada 2015, di Kabupaten Bantul terdapat 150 pekerja anak yang ditarik untuk kembali ke sekolah, dan pada tahun 2016 ini sebanyak 63 anak.
"Biasanya kasusnya itu yang memaksa untuk bekerja itu anaknya, kalau perusahaan biasanya menolak," ungkapnya. Secara ditail, mengenai proses penarikan pekerja anak yang dilakukan Disnakertrans Bantul, Kabid. Hubungan Industri dan Pengawasan Ketenagakerjaan Sujarwanto didampingi Kasi Pengawasan Ketenagakerjaan Kun Ernawati menyampaikan, untuk melakukan penjaringan tenaga kerja anak, Disnakertrans sebelumnya melakukan perekrutan tenaga pendamping dari kalangan masyarakat.
Pada saat penjaringan dilakukan, kadang persoalan yang ditemui anak-anak yang telah bekerja itu tidak mau diminta kembali sekolah, karena mereka sudah terbiasa memegang uang sendiri. Untuk dapat memotivasi pekerja anak itu supaya bisa mau kembali sekolah, merekapun dikumpulkan dalam shelter untuk dilakukan pembinaan selama 25 hari.
Dalam proses pembinaan itu, anak-anak dididik dan diberi tawaran untuk memilih sendiri sekolah yang akan dimasuki. Untuk menyalurkan kesekolah itu, Disnakertrans bekerja sama dengan Dinas Pendididkan. "Dari 63 anak tersebut ada yang lulusan SMP, ada pula yang SMA tapi putus ditengah jalan. Saat ini mereka ada yang kembali ke sekolah umum, ada yang kejar paket, " katanya. (Sit)