Nyadran Makam Sewu, Pengingat Syukur dan Bakti kepada Leluhur

Nyadran atau ziarah ke makam leluhur menjadi satu tradisi yang tak pernah lepas dari kehidupan masyarakat Jawa tiap menyambut datangnya bulan Ramadan. Tak terkecuali bagi masyarakat di Padukuhan Pedak, Kalurahan Wijirejo, Pandak, Bantul yang memiliki tradisi Nyadran Makam Sewu. Tradisi ini utamanya ditujukan untuk untuk berziarah ke makam Kanjeng Panembahan Bodho di Kompleks Makam Sewu. 

Menyambut bulan Ramadan 2026, puncak tradisi Nyadran Makam Sewu digelar pada Senin, (09/02/2026). Tradisi nyadran di Makam Sewu ini diawali dengan kirab Bregodo, Arak Jodang/Gunungan dan doa bersama. Jodang yang diarak berbentuk kotak dan dipikul sejumlah prajurit (bregodo). Jodang tersebut berisi ubo rampe seperti sego gurih, ketan kolak, apem dan ingkung. 

Sesampainya di pendopo makam sewu, Jodang dan gunungan didoakan. Setelahnya gunungan berisi hasil bumi dan makanan diperebutkan oleh ribuan warga yang sudah menunggu sejak siang. Rangkaian Nyadran Makam Sewu ini telah dimulai sejak Sabtu (7/2/2026) hingga Minggu (8/2/2026) dengan acara semaan Al-Quran. 

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, turut hadir dalam kesempatan tersebut. Ia menyebut, tradisi ini mengandung makna mendalam  sebagai wujud rasa syukur atas keselamatan dan keberkahan hidup yang mengalir dalam keseharian masyarakat.

“Gunungan dan Jodang yang diarak menjadi simbol bahwa segala nikmat berasal dari Allah SWT. Tradisi ini mengajarkan kita untuk tidak lupa bersyukur, tidak lupa berbagi dan tidak lupa bahwa setiap rezeki yang kita terima memiliki tanggung jawab sosial di dalamnya,” tutur Wakil Bupati. 

Wakil Bupati menilai tradisi ini adalah cerminan dan gabungan nilai religius dengan kearifan lokal. Kirab budaya tak hanya untuk dilestarikan sebagai seremonial belaka, tetapi juga dihayati sebagai nilai luhur kehidupan. 

“Seperti nilai gotong royong, persatuan, dan penghormatan terhadap sejarah serta identitas daerah. Kita tidak melupakan esensi utama dari nyadran yaitu memanjatkan doa bagi para leluhur, doa-doa ini menjadi wujud bakti yang tidak terputus oleh waktu. Sekaligus pengingat bahwa kehidupan ini bersifat sementara,” imbuhnya. 

Pemerintah Kabupaten Bantul berkomitmen untuk terus mendukung pelestarian tradisi ini. Sebab, budaya yang hidup di tengah masyarakat adalah kekuatan jati diri daerah dan pondasi karakter masyarakat Bantul yang religius, rukun dan berbudaya. (Fza)

Berbagi:

Pos Terbaru :