Menilik data yang dirilis Badan Pusat Statistik pada tahun 2023, rata-rata petani Indonesia berada pada kelompok usia menengah, yakni berkisar antara usia 43-58 tahun. Untuk petani milenial, jumlahnya sedikit. Sisanya, diisi oleh kelompok petani usia lanjut. Hal ini menggambarkan bahwa sejatinya Indonesia tengah mengalami krisis regenerasi dalam sektor pertanian.
Untuk menjawab tantangan tersebut, SMK Negeri 1 Pandak yang terletak di Kalurahan Gilangharjo, Kapanewon Pandak, Kabupaten Bantul, mendorong lahirnya petani-petani milenial yang unggul dan kompeten. Salah satunya melalui inovasi budidaya melon premium hidroponik yang ditanam di dalam green house atau rumah kaca.
Sejak tahun 2024, SMK Negeri 1 Pandak telah menanam dua varietas melon premium, sweet hami dan golden kirin, secara hidroponik. Menariknya, seluruh proses mulai dari penanaman hingga distribusi hasil panen dikelola langsung oleh murid-murid yang tergabung dalam program studi Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura.
“Kami memang ingin mencetak petani-petani milenial yang nanti siap bertani dan mengedukasi petani konvensional. Dan anak-anak kita ini sejak tahun pertama juga sudah terjun di lapangan,” ujar Kepala SMK Negeri 1 Pandak, Sri Mulyani, saat ditemui di rumah kaca tempat penanaman melon premium, Kamis (7/5/2026).
Salah satu siswi Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura yang kini duduk di kelas 11, Amanda Tasya, mengaku mendapat banyak ilmu dari bidang yang dipelajarinya. Padahal, mulanya ia tidak begitu menaruh minat di sektor pertanian. Setelah masuk program studi agribisnis, hal ini membuka wawasan anyar dan bahkan memiliki cita-cita untuk membuka lahan sendiri dan menyebarkan ilmunya bagi orang sekitar.
Semangat Amanda Tasya dalam menggeluti dunia pertanian terpancar saat ia menceritakan dengan fasih soal bagaimana ia dan teman-temannya membudidayakan melon premium.
“Awalnya disemai dulu selama 15 hari. Setelah itu dipindah tanam. Pohonnya kita lilit dengan tali agar tidak patah. Setelahnya, kami lakukan polinasi atau penyerbukan. Itu proses mengawinkan bunga jantan dan bunga betina agar jadi melon,” jelas Amanda.
Lebih lanjut, Amanda menjelaskan proses paling penting adalah memotong tunas air setiap hari. Sebab, hal ini berdampak pada kadar kemanisan dari melon premium yang ditanam. “Setelah polinasi itu biasanya tumbuh tunas air. Itu kita potong setiap hari. Karena kalau telah dua hari saja, kadar manisnya akan berkurang," imbuhnya.
Untuk mengenali melon siap panen, Amanda dan murid lainnya akan mengecek corak tekstur pada kulit luar melon. Jika corak telah terbentuk menyeluruh sampai penuh, itu tanda melon siap panen. Daun yang menguning juga menjadi ciri lain yang mudah dihafal.
Setiap masa panen, SMK Negeri 1 Pandak juga menerapkan metode open farm. Artinya, masyarakat umum bisa mendaftar untuk ikut memetik hasil panen. Baik varietas sweet hami maupun golden kirin, keduanya dibanderol Rp30.000 per kilogram. Dua jenis melon premium ini sama-sama manis alami tanpa tambahan pestisida. Yang membedakan adalah warna kulit dan kerenyahan daging. Melon sweet hami berkulit hijau, sedangkan melon golden kirin memiliki warna kulit kuning semi oranye.
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang menilik langsung keberadaan rumah kaca SMK Negeri 1 Pandak, menyambut gembira hadirnya inovasi ini. Ia menyebut, ini merupakan sebuah terobosan yang diharapkan dapat menggugah petani milenial untuk mengikuti jejak serupa.
“Sistem hidroponik ini sangat efisien. Hasilnya juga baik. Rasa melonnya manis, dagingnya renyah. Punya nilai ekonomi yang tinggi. Ini sangat bagus untuk menggaet petani milenial serta mendukung ketahanan pangan Kabupaten Bantul,” ucap Aris. (Els)





