Kampung Siaga Bencana merupakan salah satu cara menumbuhkan sikap kesiapsiagaan dan tanggap bencana di wilayah kalurahan. Peran aktif masyarakat dengan pendekatan / metode Community Base Disaster Management (CBDM) menempatkat masyarakat sebagai subyek dan obyek penanggulangan bencana, sehingga masyarakat dapat merencanakan, melaksanakan, dan mengendalikan sendiri upaya penanggulangan bencana.
Pengukuhan Kampung Siaga Bencana (KSB) dilaksanakan di Balai Kelurahan Srihardono, Kapanewon Pundong, pada Selasa (12/5/2026). Pembentukan KSB Srihardono merupakan yang ke 85 di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan Pembentukan Kampung Siaga Bencana ini, telah dimulai pada Hari Minggu 10 Mei sampai dengan hari Selasa 12 Mei 2026. Sebanyak 60 personil telah belajar dengan Tagana terkait divisi Tim Reaksi Cepat, Pertolongan Pertama pada Gawat Darurat, Shelter, Logistik, Dapur Umum Lapangan, Keposkoan dan Komunikasi.
Tujuan kegiatan ini, menurut Kepala Bidang Perlindungan Sosial Dinas Sosial DIY, Sigit Alfiyanto, adalah untuk memberikan perlindungan kepada masyarakat dari risiko dan ancaman bencana dengan cara menyelenggarakan kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat melalui pemanfaatan sumber daya alam dan manusia yang ada pada lingkungan setempat.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan risiko bencana, membentuk jejaring masyarakat siaga bencana berbasis masyarakat di DIY, serta mengorganisir potensi masyarakat terlatih dalam penanggulangan bencana. Selain itu, juga untuk memperkuat solidaritas antar anggota masyarakat,” lanjut Sigit.
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta memberikan apresiasi kepada semua pihak yang telah berkolaborasi dalam mewujudkan Kampung Siaga Bencana di Kalurahan Srihardono. Beliau berharap keberadaan KSB ini tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi benar-benar diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Beliau juga mengajak kepada Masyarakat untuk terus menjaga semangat gotong-royong. “Teruslah memperkuat koordinasi, meningkatkan kapasitas, dan menjaga semangat gotong-royong sebagai kekuatan utama masyarakat Bantul. Dengan masyarakat yang tangguh, kita dapat meminimalkan dampak bencana, melindungi keselamatan jiwa, serta menjaga keberlanjutan pembangunan di daerah kita,” pungkas Aris. (Pg)




