Berawal dari Coba-Coba, Keripik Tempe Sari dari Pundong Tembus Pasar Luar Kota

Tanpa mengandalkan media sosial, Supriyanto dari Pundong sukses memasarkan produk keripik tempe miliknya hingga ke luar kota. Melalui brand Keripik Tempe Sari, produk buatannya kini telah dipasarkan hingga Semarang dan Jakarta.

Supriyanto bersama sang istri merintis usaha tersebut dari rumah mereka di Piring RT 03, Srihardono, Pundong, Bantul. Nama Keripik Tempe Sari sendiri terinspirasi dari kampung halaman istrinya di Wonosari.

Sebelum fokus menjalankan usaha, Supriyanto sempat bekerja sebagai karyawan di sebuah perusahaan. Ide membuat keripik tempe muncul secara tidak sengaja saat dirinya berkunjung ke rumah teman dan mencicipi camilan tersebut.

“Saya dulu bekerja di salah satu perusahaan. Kalau Sabtu dan Minggu libur. Suatu hari main ke tempat teman, ada yang beli keripik tempe, lalu saya terinspirasi dari situ,” ungkap Supriyanto.

Berawal dari percobaan sederhana, Supriyanto dan istrinya mencoba membuat keripik tempe menggunakan lima papan tempe. Hasilnya kemudian ditawarkan kepada tetangga sekitar.

“Alhamdulillah waktu itu tetangga bilang enak. Setelah itu langsung saya produksi lagi dan coba jual ke toko-toko sekitar sini. Sampai sekarang akhirnya bisa masuk ke pasar-pasar,” ujarnya.

Pada awal usaha, Supriyanto hanya menitipkan sekitar 10 hingga 15 bungkus keripik ke warung-warung kecil. Tak disangka, produk buatannya tersebut habis hanya dalam beberapa hari.

Menurutnya, tantangan terbesar dalam produksi adalah menjaga kualitas bahan baku tempe. Sebab, tidak semua tempe memiliki kualitas yang baik untuk diolah menjadi keripik.

“Kadang dari luar kelihatan bagus, tapi ternyata dalamnya tidak padat. Kalau bahan tempenya kurang bagus, hasil keripiknya bisa agak hitam. Tapi rasanya tetap enak,” katanya.

Dalam proses produksi, Supriyanto mengaku sang istri memiliki peran besar, terutama dalam meracik bumbu dan proses memasak. Mereka juga belajar secara mandiri melalui video di YouTube untuk mengembangkan cita rasa produk.

Meski belum memanfaatkan media sosial untuk promosi, pemasaran Keripik Tempe Sari terus berkembang melalui metode sederhana, dari mulut ke mulut. 

“Permintaan paling jauh pernah dari Semarang, lalu Jakarta juga sering pesan beberapa bulan sekali,” jelasnya.

Usaha Keripik Tempe Sari mulai dirintis sejak 2017. Namun saat pandemi Covid-19, Supriyanto memutuskan keluar dari pekerjaan lamanya dan fokus penuh mengembangkan usaha bersama sang istri.

Supriyanto berharap kondisi ekonomi semakin membaik sehingga usaha kecil seperti miliknya dapat terus berkembang. Ia juga berpesan kepada generasi muda agar tidak takut mencoba peluang usaha.

“Pesan untuk anak muda, berjuanglah. Saya dulu melihat ada peluang usaha, ya sudah saya coba,” pungkasnya. (Fza)

Berbagi:

Pos Terbaru :