Di tengah dominasi komik bertema ksatria seperti King Richard dan King Arthur di Eropa atau epik Three Kingdoms serta kisah Samurai di Asia, komik Elang Jawa hadir membawa sudut pandang berbeda: kisah kesatria dari Nusantara.
Menariknya, komik yang digarap Apri Kusbiantoro bersama Fajar Nugros ini justru lebih dulu mencuri perhatian pembaca Eropa sebelum dikenal luas di Indonesia. Komik ini pertama kali terbit di Belanda melalui majalah komik strip Eppo, lalu diterbitkan di Jerman oleh penerbit Zack. Menariknya lagi, judul “Elang Jawa” tetap dipertahankan tanpa diterjemahkan menjadi Javan Eagle atau bahasa yang lain.
“Penerbit mana pun tidak mengubah judulnya, tetap dengan nama Elang Jawa. Tidak diubah jadi Javan Arend kalau bahasa Belanda, atau Javan Eagle atau apapun. Dia tidak diubah, tetap pakai Elang Jawa,” jelasnya.
Elang Jawa terinspirasi dari kisah pemisahan wilayah Kesultanan Yogyakarta dan Surakarta pasca Perjanjian Giyanti tahun 1755. Cerita tersebut berkembang dari dongeng masa kecil yang diceritakan ayah Fajar Nugros tentang alasan wilayah Yogyakarta lebih kecil dibanding Surakarta.
Menurut sang komikus, pembaca di Eropa umumnya melihat Elang Jawa sebagai sesuatu yang segar. Respons positif itu membuat penerbit di Belanda dan Jerman meminta komik Elang Jawa dilanjutkan. Padahal awalnya Apri dan Nugros hanya berencana membuat satu seri tamat. Namun setelah berdiskusi keduanya sepakat meneruskan Elang Jawa.
“Sejak akhir tahun kemarin saya mulai mengerjakan episode duanya. Tadinya ini akan kita bikin satu tamat. Tapi ternyata di Eropa mereka suka. Akhirnya penerbit Jerman dan Belanda ini meminta kami meneruskan,” ungkap Apri saat ditemui di kediamannya pada Selasa lalu (12/5).
Sebelum dikenal lewat Elang Jawa, Apri lebih dulu membangun karier internasional lewat industri komik Amerika. Ia mulai serius menjadi komikus profesional pada 2011 setelah bergabung di platform pencarian talenta Digital Webbing.
Dari sana, Apri terhubung dengan penulis asal Amerika dan mulai mengerjakan proyek komik internasional, mulai dari cerita komedian George Carlin, The Three Stooges, hingga Radio Gaga. Tiga tahun kemudian, kariernya berkembang ke pasar Eropa lewat sejumlah judul seperti Lemuria, Saul, dan Storm.
Meski aktif di luar negeri, Apri tetap menghadirkan karya yang dekat dengan budaya Indonesia. Ia membuat beberapa komik dari kisah Mahabharata dengan sentuhan Nusantara serta melanjutkan komik legendaris Si Buta dari Goa Hantu karya Ganes TH. Komik sisipan di Majalah Bobo, Pak Janggut, juga merupakan hasil besutannya.
Komik bukan sekadar gambar di atas kertas, melainkan perjalanan panjang. Apri menjelaskan bahwa pembuatan komik dimulai dari naskah yang kemudian dipecah ke dalam storyboard untuk menentukan jumlah panel dan alur visual. Storyboard ini selanjutnya didiskusikan bersama penulis naskah, editor, atau penerbit sebelum melangkah ke tahap selanjutnya. Setelah disetujui, perlahan storyboard akan dihidupkan melalui ilustrasi dan melewati proses editing, hingga akhirnya lahir menjadi komik yang siap dinikmati.
Untuk saat ini Apri menilai industri komik Indonesia perlahan mulai bangkit setelah sempat redup sejak era kejayaan komik lokal pada 1960–1980-an. Menurutnya, tantangan terbesar di era ini adalah menjaga konsistensi berkarya di tengah pasar yang belum sepenuhnya besar.
“Karena ketika kita dapat sambutan yang baik, kita harus menjawab dengan konsistensi karya. Dengan demikian pembaca tidak akan terputus membaca karya kita,” pesannya.
Menjadi komikus tetap merupakan pekerjaan yang indah bagi Apri. Di tengah tantangan industri yang belum sepenuhnya besar, ia mengaku tetap menikmati setiap proses kreatif yang dijalani, mulai dari menyusun cerita hingga melihat karakter hidup di atas halaman komik.
“Bikin komik itu komik pekerjaan yang indah, untuk saya sendiri. Kita tidak memikirkan sesuatu yang berlebihan, kita cukup bahagia ketika karya kita dinikmati orang. Bahkan ketika karya kita diterbitkan pun dalam bentuk buku itu sudah jadi sebuah reward yang sangat besar buat saya,” pungkasnya. (Hahn)




