Di atas kanvas, Syafiq Raif Muzaffar menemukan ruang untuk mengekspresikan diri. Saat banyak orang bercerita dengan kata-kata, siswa tunarungu dari SLB Islam Qathrunnada, Tamanan, Banguntapan ini menuangkan ide dan imajinasinya melalui warna dan sapuan kuas.
Kecintaannya pada dunia seni tumbuh sejak duduk di kelas 4 SD. Berawal dari kebiasaan menggambar dan mencoret-coret di kertas, bakat Raif mulai disadari para guru. Potensi tersebut kemudian diasah melalui pendampingan yang berkelanjutan hingga kemampuan melukisnya terus berkembang dari tahun ke tahun.
Dalam proses belajar, siswa tunarungu ini biasanya mengamati berbagai contoh lukisan terlebih dahulu. Dari sana, ia mempelajari bentuk, menyusun sketsa, lalu mengembangkan idenya sendiri. Tak jarang, ide-ide kreatif muncul di tengah proses menggambar dan menjadi ciri khas yang membuat karya-karyanya berbeda.
Semangatnya untuk terus belajar juga membawanya pada berbagai prestasi. Tahun ini, siswa usia SMP ini kembali dipercaya mewakili Daerah Istimewa Yogyakarta dalam Festival dan Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat nasional. Sebuah pencapaian yang lahir dari ketekunan, rasa ingin tahu, dan keberaniannya untuk terus mengeksplorasi seni.
“Ini adalah tahun ketiga ananda Raif mengikuti lomba FLS3N yang mana tahun sebelumnya ananda Raif mengikuti lomba gambar ekspresi. Di tahun 2024 ia meraih harapan 2 dan tahun 2025 juara harapan 1,” ungkap Kepala SLB Islam Qathrunnada, Tistika Enggar Pratiwi.
Di balik perkembangan tersebut, ada sosok yang menjadi inspirasinya, yakni guru seni lukisnya. Siswa tuna rungu tersebut kerap dibuat takjub oleh karya-karya sang guru. Kekaguman inilah yang memotivasinya untuk terus belajar sehingga kemampuannya semakin terasah. Namun rupanya, di samping kemampuan, Raif terbukti memang memiliki kemauan yang keras untuk terus maju.
Menurut cerita Tistika, perjalanan lomba Raif di tahun 2026 ini tidak mudah. Sebelum maju lomba ke tingkat propinsi, ia sempat jatuh sakit dan dirawat opname. Namun dalam masa perawatan, ia bersikukuh untuk tetap mengikuti lomba.
“Setelah dokter menyatakan Raif bisa keluar dari RS, ia langsung menuju ke tempat lomba dari rumah. Ia mengikuti lomba meski dalam kondisi belum fit. Namun ia mampu membuktikan kemampuan dan kemauannya mampu menghantarkan Raif juara 1,” ungkapnya bangga.
Raif juga dikenal sebagai pribadi yang gemar bereksplorasi. Ia tidak hanya mencoba berbagai teknik melukis, tetapi juga berani menghadirkan detail-detail yang tak biasa dalam karyanya. Sesekali, ia menambahkan elemen seperti manik-manik berbentuk mata untuk memperkuat karakter lukisan yang dibuatnya. Baginya, kanvas adalah ruang untuk mencoba dan menciptakan sesuatu yang baru.
“Dulu pernah melukis awan, tapi dalam lukisan selanjutnya ia berganti teknik dalam melukis awan. Karena di lukisan sebelumnya dia merasa itu tidak seperti awan. Raif juga kadang bereksplorasi, misal menambahkan manik-manik mata pada lukisannya,” ungkap Tri Purwanti, salah satu guru SLB Islam Qathrunnada.
Raif hanyalah satu dari puluhan siswa SLB Islam Qathrunnada yang tengah mengembangkan bakat mereka di berbagai bidang. Ada yang menekuni batik, tata jahit, desain grafis, hingga komik. Yang patut diapresiasi adalah kesediaan sekolah berjuang memfasilitasi siswa-siswinya di tengah keterbatasan, salah satunya dengan menghadirkan guru-guru profesional untuk membimbing setiap bidang yang ditekuni siswa-siswi.
“Harapan kami tentunya, semoga di tahun 2026 ananda Raif mencapai prestasi setinggi-tingginya sehingga dapat mengharumkan nama DIY khususnya Bantul. Namun apapun hasil yang dicapai Raif adalah yang maksimal dan terbaik. Sekolah sudah sangat bangga,” pungkas Tistika. (Hahn)





