Malas Pilah Sampah Hanya Akan Membuat Bantul Bersih Sampah Mengendap Sebagai Wacana

Tanpa pernah mengenal bosan, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, menekankan bahwa salah satu kunci utama penyelesaian masalah sampah di Bantul adalah budaya pilah sampah. Pesan ini senantiasa disampaikan berulang dalam berbagai kesempatan. Termasuk di sela-sela deklarasi kelembagaan Bank Sampah se-Ringinharjo, Minggu (12/7/2026).

“Kita sudah mendatangkan banyak mesin. Pembangunan TPST, baik yang besar atau kecil, sudah ada di sejumlah wilayah. Dan itu belum memadai. Masih ada masyarakat kita yang membuang sampah di sungai, sawah, bahkan saluran drainase. Artinya, teknologi saja tidak cukup. Yang paling krusial, justru kesadaran kita dalam memilah sampah,” ungkap Halim.

Halim menambahkan, budaya memilah sampah adalah budaya yang mahal. Maka, ia mengapresiasi betul bagaimana Kalurahan Ringinharjo bisa mengumpulkan warganya dan kompak perihal pilah sampah. Bahkan sanggup mengolah sejumlah sampah plastik menjadi petasol, bahan bakar minyak setara solar. 

“Saya menyaksikan sendiri kemarin. Ada truk SAR DIY, diisi petasol, dan bisa jalan,” tutur Halim.

Upaya Kalurahan Ringinharjo benar-benar dilihat Bupati Bantul sebagai upaya nyata bagi keberlangsungan lingkungan hidup, serta bagaimana mencegah kerusakan bumi agar tidak semakin parah.

“Jangan sampai anak cucu kita kelak teriak karena diwarisi bumi yang sakit dan rusak. Maka, ayo kita sama-sama galakkan budaya pilah sampah dari rumah. Harus dipaksa memang,” imbuh Halim.

Sepakat dengan pernyataan tersebut, peneliti BRIN, Heru Susanto, mengungkapkan bahwa pilah sampah sanggup menekan biaya pengelolaan sampah sebanyak 63%. 

“Satu ton sampah, untuk pengelolaannya itu membutuhkan biaya antara satu juta sampai satu setengah juta rupiah. Bisa ditekan 63% kalau sudah dipilah dengan baik. Kami bisa mengatakan bahwa biaya pengelolaan sampah itu ditentukan dari pemilahan sampah,” ungkap Heru.

Sementara itu, Lurah Ringinharjo, Sulistyo Atmaja, mengatakan saat ini tercatat telah ada 20 Bank Sampah dari 43 RT yang ada di Ringinharjo. Pihaknya ingin keberadaan Bank Sampah ini menjadi program yang berkelanjutan, tidak jalan di tempat.

“Karena ya kami ingin anak cucu melihat kami, mencontoh kebiasaan kami, bagaimana kami memilah sampah dan mengelola sampah semaksimal yang kami bisa,” pungkas Sulistyo. (Els)

Berbagi:

Pos Terbaru :