Dalam sebuah wadah anyaman daun kelapa yang lazim disebut sarang, warga Padukuhan Muntuk, Kapanewon Dlingo, menempatkan nasi kenduri sembari diiringi doa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tidak kurang dari 1.200 sarang disiapkan dalam momen Merti Dusun Muntuk yang digelar pada Rabu (26/8) di Sanggar Budaya Singo Dongso.
Jumlah tersebut menjadi gambaran besarnya partisipasi masyarakat dalam merawat tradisi sekaligus menjaga kebersamaan. Seluruh sarang disiapkan secara swadaya, menjadikan kenduri akbar tersebut bukan hanya sebagai bagian dari ritual budaya, tetapi juga wujud semangat golong gilig masyarakat Muntuk.
Lurah Kalurahan Muntuk, Marsudi, menyampaikan rasa bangga atas kekompakan dan sifat golong gilig yang ditunjukkan warganya. Menurutnya, jumlah kenduri dan ramainya masyarakat yang hadir menunjukkan kuatnya semangat kebersamaan masyarakat dalam menyelenggarakan Merti Dusun.
“Semoga dalam merti dusun ini dapat menjadikan padukuhan muntuk menjadi contoh merti dusun se-Bantul dalam hal kekompakan dan keakraban. Juga dapat menjadikan wilayah Muntuk baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ungkapnya.
Harapan tersebut memuat doa agar kehidupan masyarakat Muntuk senantiasa berjalan dalam keseimbangan. Tidak hanya tercermin dari wilayah yang baik, aman, dan subur, tetapi juga dari kehidupan spiritual masyarakat yang terus terjaga.
Sementara itu, Wakil Bupati Bantul Aris Suharyanta memberikan apresiasi atas antusiasme masyarakat dalam menghadiri Merti Dusun Muntuk. Ramainya warga yang hadir menunjukkan bahwa tradisi tersebut masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat.
Aris menilai Merti Dusun merupakan tradisi warisan nenek moyang yang memiliki banyak manfaat. Selain menjadi ruang berkumpul bagi masyarakat, tradisi tersebut juga menjadi momentum untuk mengungkapkan rasa syukur sekaligus memanjatkan doa bagi keselamatan warga dan wilayah.
“Salah satunya adalah kita bersyukur kepada Allah swt yang telah memberikan rejeki, kesehatan, dan hasil bumi yang baik di daerah muntuk. Serta di merti dusun tentu saja ada kegiatan dan doa yang bertujuan agar dusun muntuk terhindar dari bencana.”
Pelaksanaan Merti Dusun Muntuk pada akhirnya tidak sekadar menghadirkan kenduri dalam jumlah besar. Di balik 1.200 sarang yang tersaji, ada semangat warga untuk terus menjaga tradisi, merawat kebersamaan, dan memanjatkan doa keselamatan untuk wilayah yang mereka tinggali. (Hahn)




