Dewi Kajii Culture Festival 2026 Digelar, Gotong Royong dan Semangat Warga Jadi Ruhnya

Irama tembang Jawa yang dilantunkan panembromo mengalun selaras dengan tabuhan gamelan kelompok Karawitan Ngudi Laras dari Desa Mandiri Budaya Kalurahan Gilangharjo. Suasana tersebut menciptakan atmosfer budaya yang kental dalam pembukaan Dewi Kajii Culture Festival 2026.

Mengusung tema Manunggaling Rasa, Luhuring Budaya, festival yang digelar di Kadisoro ini mengangkat ikan hias sebagai identitas utama pariwisata Kadisoro. Potensi unik tersebut dipadukan dengan berbagai atraksi seni tradisional yang melibatkan masyarakat setempat.

Festival budaya Dewi Kajii resmi dibuka Ketua Komisi B DPRD DIY Andriana Wulandari pada Jumat (25/9). Dalam sambutannya Andriana menekankan bahwa desa wisata tidak hanya menjadi tempat untuk menarik wisatawan. Lebih dari itu, desa wisata dinilai penting untuk menjaga budaya dan menggerakkan ekonomi masyarakat dengan membuka peluang bagi UMKM lokal. Selanjutnya, ia juga berpesan agar masyarakat terus menjaga budaya dan semangat gotong royong dalam mengembangkan Dewi Kajii. 

“Karena kekuatan desa-wisata sesungguhnya bukan hanya pada destinasi, tetapi pada keramahan masyarakat dan keunikan budayanya,” pesannya.

Di Kadisoro, semangat warga memang menjadi salah satu kekuatan dalam pengembangan desa wisata. Hal tersebut disampaikan tanpa ragu Ketua Penyelenggara Dewi Kajii Culture Festival 2026, Muhammad Gema Ramadhan.

Berbekal dukungan warga setempat, Gema optimistis Dewi Kajii dapat berkembang lebih jauh. Ia bahkan menargetkan festival ikan hias berskala internasional dapat digelar pada 2027 mendatang.

“Desa Wisata Kajii tidak hanya sekedar desa wisata, tetapi sebuah pemberdayaan yang berjalan secara kemasyarakatan. Kami juga berupaya melestarikan masyarakat untuk terus bergerak ekonominya,” ungkap Gema.

Rangkaian festival pada hari pertama diisi lomba mewarnai yang diikuti sekitar 125 peserta anak bersamaan dengan talkshow, pentas karawitan serta donor darah. Hari kedua diisi atraksi kesenian tradisional dan kontes ikan tingkat nasional. Kontes yang memperebukan piala GKR Hemas ini telah diikuti lebih dari 1000 peserta terdaftar. 

Pada hari terakhir, Dewi Kajii mengadakan talkshow ikan hias dan festival layang-layang digelar berkolaborasi dengan Komunitas Pelangi DIY.

Selain acara yang variatif, pengembangan Dewi Kajii juga diperkuat melalui kerja sama dengan Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo (Stipram) Yogyakarta. Kerja sama tersebut ditandai dengan penandatanganan MoU untuk memberikan beasiswa magister di Program Studi Pariwisata bagi satu orang. Kolaborasi yang terjalin ini diharapkan dapat mendukung pengembangan sumber daya manusia di desa wisata. 

Melalui festival ini, masyarakat Kadisoro menunjukkan bahwa pengembangan desa wisata melalui community based tourism dapat berjalan dengan efektif. Budaya tetap dirawat, potensi wisata dikembangkan dan UMKM lokal pun turut tumbuh. (Hahn)

Berbagi:

Pos Terbaru :