Sebagaimana yang ditekuni Ibu Marsih, warga Sumber Batikan, Trirenggo, Bantul. Sejak beberapa tahun tahun menekuni abon ayam dengan dua rasa gurih dan pedas. Kerajinan tersebut muncul di saat dia sembuh dari sakit akibat tertimpa tangga sewaktu gempa bumi tahun 2006.
“Waktu bencana gempa punggung saya tertimpa gempa, sehingga beberapa bulan hanya tiduran. Setelah sembuh ada pikiran buat abon ayam, karena punya pengalaman membuat abon di rumah produksi orang lain†katanya.
Lauk pauk jenis abon ayam sangat praktis, bisa digunakan untuk lauk langsung, isi lemper maupun roti sehingga berapapun produksen akan terserap pasar.
Menurut ibu satu anak tersebut, pangsa pasar masih luas, dirinya yang baru buka sembilan tahun sudah dikenal sampai Jakarta dan Bandung, padahal tidak pernah pasang iklan hanya dari mulut ke mulut.
Awal buka dirinya hanya bermodal Rp. 300. 000,- untuk beli ayam tiga kilogram dengan berbagai bumbu. Dan saat ini rata per hari sudah 10 Kg untuk melayani di sekitar Yogyakarta. Kalau hari lebaran atau hari libur bisa melonjak sampai 50 – 60 Kg.
Untuk harga memang cukup mahal karena dirinya hanya membuat yang murni daging ayam kualitas satu, dan hanya mengambil dadanya saja sehingga dari bahannya juga beda harganya. (m)