Bantul tidak pernah kehabisan ide kreatif. Kali ini giliran Kalurahan Sriharjo menggelar event lari bertajuk Kitir-Run dengan kategori 5K pada Minggu (26/7). Ratusan peserta tampak antusias berlari di jalan sepanjang bulak. Yang menjadikannya unik, jalanan tersebut dipenuhi oleh puluhan kincir angin kecil atau lazim disebut kitiran. Para finisher pun mendapatkan kitiran berwarna warni, bukan medali.
Ya! Kitir-Run 5K memang merupakan salah satu agenda dari Festival Kitiran yang dilaksanakan pada tanggal 25-26 Juli 2026. Festival ini menampilkan puluhan kitiran yang dilombakan dan diikuti oleh 63 RT yang terbagi dalam 13 padukuhan se-Kalurahan Sriharjo.
Bertempat di sepanjang Bulak Truli (Trukan-Gondosuli), Festival Kitiran benar-benar memaksimalkan potensi lokal yang dimiliki Kalurahan Sriharjo. Kombinasi puluhan kitiran dengan suara bambu yang beradu, semilir angin, dan pemandangan hamparan sawah di kaki perbukitan berpadu menjadi pertunjukan yang berbeda.
Bukan sekedar menunjukkan kekayaan hasil budaya, Festival Kitiran diselenggarakan untuk mengemban falsafah yang sarat makna. Berdasarkan keterangan panitia penyelenggara yang dilansir dalam momen pembukaan festival, Alib Biyono, kitiran merupakan representasi dari filosofi urip kudu obah atau hidup harus (terus) bergerak.
“Selagi masih ada angin, kitiran terus akan berputar. Begitu juga dengan kita, selagi masih bisa bernafas, harus bergerak, hidup, dan menghidupi,” ujarnya.
Falsafah ini terimplementasi dalam tujuan penyelenggaraan festival. Menurut Alib, acara ini bertujuan untuk membuka peluang bagi pengusaha UMKM di Kalurahan Sriharjo, khususnya Padukuhan Trukan-Gondosuli, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dalam konteks yang lebih luas, Festival Kitiran masuk dalam penguatan empat pilar Desa Mandiri Budaya di Sriharjo, yakni sebagai Desa Wisata. Menurut Lurah Sriharjo, Titik Istiawatun Hasanah, Kalurahan Sriharjo telah memiliki satu Desa Wisata yaitu Sri Keminut. Namun mengikuti dinamika yang terjadi, saat ini mereka tengah menginisiasi satu desa wisata lagi yakni Desa Wisata Sriharjo.
“Desa Wisata Sriharjo akan memayungi destinasi wisata selain yang ada di Sri Keminut. Jadi dari Sompok ke barat ini nanti akan dipayungi Desa Wisata Sriharjo. Sebab munculnya destinasi-destinasi dan potensi wisata yang lain perlu dipayungi menjadi satu Desa Wisata yang khusus,” ungkap Titik.
Festival Kitiran, lanjutnya, tidak hanya menyuguhkan atraksi tradisional kitiran tetapi juga menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya serta melibatkan pelaku UMKM lokal untuk menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Ke depan, Pemerintah Kalurahan Sriharjo berharap festival ini terus berkembang, baik dari sisi kualitas maupun jangkauannya, sehingga dapat meningkat menjadi Festival Kitiran bertaraf internasional.
Festival ini dimulai dengan senam sehat yang dilanjutkan pertunjukan kesenian tradisional seperti jathilan, berbagai tarian, dan kesenian karawitan pada hari pertama. Selanjutnya di hari ke dua kegiatan diisi dengan Kitir-Run, kesenian gejog lesung, dan Workshop Kitiran. (Hahn)




