Pemerintah Kabupaten Bantul terus menggalakkan gerakan ASN belanja di pasar tradisional sebagai salah satu upaya mendorong aktivitas perdagangan dan meningkatkan pendapatan pedagang. Program yang mulai digencarkan ini dilakukan dengan mengajak ASN berbelanja di pasar tradisional minimal satu kali dalam sebulan.
Langkah tersebut merupakan respon pemerintah terhadap keluhan pedagang mengenai penurunan aktivitas belanja masyarakat di sejumlah pasar. Dalam kunjungan belanja di Pasar Bantul, Jumat (18/9/2026), Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Bantul, Fenty Yusdayanti, mengakui adanya tren penurunan kunjungan di beberapa lokasi yang berdampak pada omset pedagang.
“Keluhan pedagang itu terjadi penurunan belanja. Memang kita akui di beberapa tempat terjadi seperti itu. Masing-masing pasar beda, ada yang harian, ada yang pasaran. Kalau yang harian itu kira-kira sampai 30% ada penurunan,” ujarnya.
Menurut Fenty, perubahan pola belanja masyarakat turut memengaruhi aktivitas perdagangan di pasar. Masyarakat kini cenderung memilih tempat belanja yang lebih dekat, mudah diakses, dan praktis. Di sejumlah wilayah, pilihan tersebut semakin beragam dengan munculnya kios-kios yang berada dekat dengan permukiman, termasuk yang beroperasi hingga 24 jam, serta pedagang keliling.
“Pembeli kadang mencari yang praktis, yang dekat dan mudah diakses. Tetapi di lain pihak, kita punya fasilitas pasar yang tetap harus hidup. Karena itu, salah satu upayanya adalah menggerakkan ASN untuk belanja di pasar-pasar tradisional,” jelasnya.
Selain menggerakkan ASN, Pemkab Bantul juga melakukan sejumlah inovasi untuk meningkatkan daya tarik pasar. Sejumlah pasar didorong menghadirkan kegiatan dan acara tematik yang dapat menarik masyarakat untuk datang dan beraktivitas, termasuk kegiatan yang berlangsung hingga malam hari.
Sementara itu, Sekretaris Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (DKUKMPP) Kabupaten Bantul, Guppianto Susilo, mengatakan pemerintah mulai menyiapkan langkah menuju digitalisasi pasar sebagai bentuk penyesuaian terhadap perubahan perilaku konsumen.
“Kalau pasar tidak berubah mengikuti dinamika belanja online, mau tidak mau akan terancam. Salah satu pendekatannya adalah pasar kita dorong ke arah digitalisasi,” jelasnya.
Gerakan ASN belanja di pasar, lanjutnya, merupakan upaya menjaga stabilitas ekonomi dalam masa transisi dari pasar konvensional menuju digital. Sementara di sisi lain, Pemkab Bantul juga tengah menjajaki penggunaan pembayaran non-tunai melalui kerja sama dengan perbankan, termasuk pemanfaatan QRIS untuk transaksi di pasar dan pembayaran retribusi. (Hahn)




