Panjatkan Syukur dan Umbul Doa, Warga Trimurti Gelar Bakda Mangiran

Ratusan warga memadati kawasan Mangiran, Trimurti, Srandakan, Bantul pada Senin (23/3/2026), untuk menyaksikan kirab upacara adat Bakda Mangiran. Antusiasme masyarakat dimulai pada pertengahan hari saat rangkaian prosesi budaya dimulai. Meski cuaca terik menyengat, semangat warga untuk mengikuti dan menyaksikan tradisi tetap tinggi.

Bakda Mangiran merupakan tradisi masyarakat Mangiran yang digelar beberapa hari setelah Idul Fitri sebagai ungkapan rasa syukur usai menjalankan ibadah puasa Ramadan. Ungkapan syukur ini diwujudkan dengan pemberian sedekah kenduri di akhir acara dalam bentuk gunungan.

Selain ungkapan syukur, upacara adat yang telah dimulai sejak dekade 1930-an ini memiliki kaitan dengan asal usul berdirinya Dusun Mangiran. Lurah Trimurti, Agus Purwaka, menjelaskan, cikal bakal Dusun Mangiran adalah Kyai Mangirana dan Nyai Mangirana. Karena itu, kirab dilakukan dari Pendopo Atemorejan menuju makam keduanya.

Sehari sebelum Lebaran (H-1), rangkaian acara Bakda Mangiran telah diawali dengan doa bersama. Sementara pada puncak upacara yakni kirab, prosesi diawali dengan penampilan Beksan Kriyo Manggala. Tarian ini merupakan hasil modifikasi seniman Trimurti yang terinspirasi dari kesenian reog. Gerak dinamis para penari menjadi penanda dimulainya kirab yang sarat makna simbolik dan spiritual.

Setelahnya, iring-iringan bergada dan abdi dalem mengarak ubarampe dari Pendopo Atemorejan menuju Kompleks Makam Caturloyo Mangiran sejauh 500 meter. Dalam kirab tersebut tampak dua buah nisan, seperangkat sesaji, gunungan pangan lokal, serta gunungan hasil bumi. Sesampainya di kompleks makam, prosesi dilanjutkan dengan doa bersama. Umbul doa dipanjatkan agar Kyai Mangirana dan Nyai Mangirana mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan.

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, yang turut hadir, menegaskan pentingnya menjaga tradisi Bakda Mangiran. Menurutnya, nilai utama yang terkandung dalam tradisi tersebut adalah kekompakan, kebersamaan, dan semangat gotong royong warga.

“Ini adalah warisan budaya yang baik dan wajib dilestarikan. Masyarakat, khususnya di Mangiran, memiliki tanggung jawab untuk menjaga budaya nenek moyang agar tidak dilupakan generasi mendatang,” tuturnya.

Usai umbul doa suasana berubah menjadi penuh kegembiraan. Hiburan tarian ledek digelar, diikuti dengan momen yang paling dinanti: rayahan gunungan. Dalam waktu singkat gunungan hasil bumi yang diperebutkan warga ludes seketika.

Pada tahun 2024, upacara adat ini telah resmi ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Kementerian Kebudayaan republik Indonesia. Maka tak mengherankan, tahun ini Bakda Mangiran sekali lagi membuktikan dirinya bukan sekadar tradisi, melainkan denyut kebudayaan yang terus terjaga dari masa ke masa. (Hahn)

Berbagi:

Pos Terbaru :