Tape Singkong Watugedug: Kisah Manis dari Dapur-Dapur Sederhana

Aroma khas tape singkong yang manis dan sedikit menyengat menyeruak dari dapur sederhana milik Samsudin dan istrinya, Tukul. Di rumah mereka, olahan singkong ini bukan sekadar camilan tradisional, melainkan denyut ekonomi sekaligus warisan yang sampai saat ini masih dijaga.

Tape singkong dikenal luas sebagai makanan tradisional bercita rasa manis dan “kemrenyes”, seperti sensasi saat minum soda. Tak hanya lezat, makanan ini juga kerap disebut sebagai superfood. Proses fermentasi yang dilalui saat pembuatan mampu meningkatkan kandungan nutrisi serta menjadi sumber probiotik yang kaya manfaat bagi tubuh.

Bagi Samsudin, usaha tape bukan hal baru. Ia melanjutkan jejak bapak mertuanya telah mulai membuat tape pada tahun 1986. “Dulu tidak ada pekerjaan, lalu bapak menanam singkong sendiri. Setelah dicoba dibuat tape, ternyata laku,” kenangnya. 

Proses pembuatan tape singkong di rumah Samsudin masih mempertahankan cara tradisional. Singkong yang datang dicuci bersih, dikupas, lalu dipotong-potong. Setelah itu, singkong direbus, didiamkan semalaman, dicuci kembali, dan direbus untuk kedua kalinya. 

Usai direbus dan ditiriskan hingga dingin, singkong ditaburi ragi untuk memulai proses fermentasi. Singkong yang yang sudah ditaburi ragi kemudian ditutup berlapis menggunakan daun pisang, plastik, dan kain. Proses ini berlangsung selama satu malam. 

“Kalau raginya bagus, hasilnya juga bagus. Tapi kalau tidak, bisa gagal,” ujar Samsudin. 

Tukul, istri Samsudin, mengaku memakai ragi dari daerah tertentu. Menurutnya ragi tersebut menghasilkan tape yang karakteristiknya lebih lembut. Hal ini krusial sebab selain dikonsumsi langsung, tape juga sering diolah menjadi berbagai olahan seperti campuran es atau isian roti gabin.

Dari tape singkong, Samsudin mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga membiayai pendidikan anak. Tape hasil produksinya dikemas dengan plastik setengah kiloan dan dipasarkan seharga Rp5.000 per plastik. Selain dijual di Pasar Niten, tape produksi Samsudin juga diambil langsung oleh beberapa pedagang. 

Di balik kesederhanaannya, produksi tape ini juga menghadapi tantangan lain, seperti penggunaan bahan bakar kayu. Hingga kini, proses memasak masih mengandalkan kayu bakar, dengan kebutuhan satu truk kayu setiap dua bulan yang harganya mencapai sekitar Rp1.250.000. “Saya berharap usaha ini bisa terus maju dan penjualan lancar,” ungkap Samsudin.

Dalam kesempatan yang sama, Kepala dukuh Watugedug, Mistijan, menyebut bahwa usaha tape singkong di wilayahnya telah berkembang menjadi kegiatan ekonomi kolektif. Saat ini, terdapat sekitar tujuh rumah tangga yang memproduksi tape, sebagian besar mengikuti jejak keluarga Samsudin dan Tukul.

“Produksi masih tradisional semua. Rata-rata per hari bisa mengolah 50 sampai 100 kilogram singkong, tergantung cuaca,” jelas Mistijan. 

Bahan baku rata-rata didatangkan dari daerah Karanganyar dan Boyolali sebab tidak banyak ditemukan singkong di sekitar sana.  Menurut Mistijan, hal ini disebabkan tanaman singkong di Guwosari hanya ditanam di lahan tegakan– di bawah pohon jati, sengon, atau mahoni – sehingga hasilnya minim.

Mistijan berharap, pemerintah lebih memperhatikan potensi tape singkong Watugedug dan mengembangkannya menjadi sentra produksi, sekaligus destinasi bagi masyarakat yang ingin melihat pembuatan dan membeli tape langsung dari sumbernya. (Hahn)

 

Berbagi:

Pos Terbaru :