Panen Raya Ketela di Lumbung Mataraman Sriharjo, Dorong Ketahanan Pangan Terpadu

Panen raya ketela digelar di kawasan Lumbung Mataraman Kalurahan Sriharjo, Kapanewon Imogiri, Kabupaten Bantul, pada Rabu (20/05/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya penguatan ketahanan pangan berbasis pertanian terpadu yang dikembangkan masyarakat bersama pemerintah kalurahan. 

Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, mengatakan keberadaan Lumbung Mataraman Desa Mandiri Pangan di Sriharjo diharapkan mampu mewujudkan kemandirian pangan masyarakat.

“Harapan kami ke depan di Sriharjo ini memang betul-betul mampu terkait dengan kemandirian pangan. Artinya di komplek Lumbung Mataraman ini sudah ditanam berbagai jenis makanan, sesuai arahan daripada pemerintah yaitu ketahanan pangan sehingga makanan yang ditanam di Lumbung Mataraman Kaluran Sriharjo ini mudah didapat, murah, sehat dan bergizi,” tuturnya.

Ia menambahkan, keberadaan lumbung pangan tersebut diharapkan mampu menjamin ketersediaan pangan masyarakat di Kalurahan Sriharjo.

“Insyaallah masyarakat di wilayah Kalurahan Sriharjo ini tidak akan kekurangan pangan,” katanya.

Selain sektor pangan, Aris juga menyoroti potensi budaya dan pariwisata di wilayah Imogiri yang dinilai perlu terus dijaga dan dilestarikan.

“Kalau tradisi di Kapanewon Imogiri ini memang banyak tradisi-tradisi karena memang termasuk desa wisata juga banyak di Imogiri sehingga ini tetap terjaga. Wisata religius, kemudian wisata-wisata kesenian tradisional di masing-masing dusun ini tetap harapan kita terjaga tetap dilestarikan untuk mendukung kegiatan ini,” lanjutnya.

Sementara itu, Lurah Sriharjo, Titik Istiawatun Hasanah, menjelaskan Lumbung Mataraman dikembangkan dengan konsep integrated farming atau pertanian terpadu.

Menurutnya, konsep tersebut menghubungkan sektor pertanian dan peternakan secara berkelanjutan. Limbah peternakan dimanfaatkan sebagai pupuk pertanian, sementara limbah pertanian digunakan kembali sebagai pakan ternak.

“Konsepnya pertanian terpadu. Output peternakan menjadi input pertanian, kemudian limbah pertanian juga bisa dimanfaatkan kembali untuk kebutuhan peternakan,” jelasnya.

Ia menambahkan, kawasan Lumbung Mataraman juga menjadi sarana pembelajaran bagi petani di Sriharjo. Pengelolaannya melibatkan Kelompok Wanita Tani (KWT), Taruna Tani, kelompok tani, serta gabungan kelompok tani yang berada di bawah koordinasi BUMDes.

Selain pengembangan tanaman pangan, pihak kalurahan juga mulai memproduksi pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing untuk mendukung pengembangan varietas pertanian di kawasan tersebut.

“Pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing sudah mulai dilakukan dan nantinya akan dikembalikan lagi untuk mendukung pertanian di sini,” katanya.

Selain pengembangan tanaman pangan, pihak kalurahan juga mulai memproduksi pupuk organik berbahan dasar kotoran kambing untuk mendukung pengembangan varietas pertanian di kawasan tersebut.

“Pembuatan pupuk organik dari kotoran kambing sudah mulai dilakukan dan nantinya akan dikembalikan lagi untuk mendukung pertanian di sini,” bebernya. 

Titik menyebut kawasan lumbung bersama kandang kelompok warga memiliki luas sekitar 1,9 hektare. Namun demikian, pengelolaan dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia masih menjadi tantangan utama.

“Kendalanya lebih pada pengelolaan dan peningkatan kapasitas, terutama terkait pengembangan varietas pertanian,” imbuh Titik. 

Selain hasil panen ketela, Sriharjo juga mulai mengembangkan produk olahan singkong menjadi mokaf atau modified cassava flour. Tepung mokaf tersebut selanjutnya diolah menjadi berbagai produk pangan, termasuk mie instan mokaf “Srimi”.

“Kalau olahan lainnya lebih ke mokavnya ya yang singkong itu diolah jadi mokav yang olah mokav lalu nanti dari mokavnya itu diolah jadi mie instan mokav Srimi,” pungkas Titik. (Fza)

Berbagi:

Pos Terbaru :