Berawal dari permintaan keponakannya yang berada di Jakarta, Isnaini, warga Mayungan, Murtigading, Sanden, Bantul, mulai membuat lemper frozen meski sebelumnya belum pernah memproduksinya. Sejak sekitar 1998, Isnaini telah berjualan lemper dan kemudian mengembangkan produknya agar dapat bertahan lebih lama sebagai oleh-oleh.
Lemper frozen dibuat seperti lemper pada umumnya. Setelah dibungkus daun, lemper dimasukkan ke dalam kulkas selama sekitar dua jam sebelum dibekukan agar tetap rapi saat di vakum.
“Lemper ini tidak pakai bahan pengawet. Kalau tetap disimpan di freezer bisa tahan sampai tiga bulan,” ujar Isnaini.
Untuk mengonsumsinya, lemper frozen cukup dikeluarkan dari freezer dan dibiarkan pada suhu ruang sekitar 30 menit, kemudian dikukus. Satu pack lemper frozen berisi 10 biji dan dibanderol dengan harga Rp30.000 untuk varian ayam, sedangkan varian daging sapi dibanderol Rp40.000. Varian ayam menjadi yang paling banyak diminati.
Hanifah, salah satu pelanggan lemper frozen asal Kalimundu, mengaku sudah cukup lama menjadi pelanggan dan rutin membeli lemper buatannya. Jika sebelumnya ia harus datang hampir setiap hari untuk membeli lemper, kini kehadiran produk lemper frozen membuatnya lebih praktis karena dapat menyimpan stok di rumah dan mengolahnya kapan saja dibutuhkan.
“Dulu saya hampir setiap hari beli lemper karena memang suka dan sering untuk camilan di rumah. Sekarang dengan adanya lemper frozen, saya bisa beli beberapa sekaligus dan menyimpannya di rumah. Jadi lebih praktis dan tidak harus setiap hari datang,” ujar Hanifah.
Menurutnya, lemper frozen juga menjadi solusi ketika ada kebutuhan mendadak, terutama saat kedatangan tamu. Ia cukup mengambil lemper dari freezer kemudian mengolahnya, sehingga tidak perlu repot mencari makanan atau membeli dalam waktu singkat.
“Kalau tiba-tiba ada tamu, saya tidak perlu bingung lagi menyiapkan makanan. Tinggal ambil dari freezer, kemudian dimasak, sudah bisa disajikan. Rasanya juga tetap enak,” katanya.
Tak hanya untuk konsumsi pribadi, Hanifah melihat produk lemper frozen tersebut memiliki peluang untuk dikembangkan sebagai usaha. Ia pun turut menjadi reseller dengan menawarkan produk tersebut kepada orang-orang di sekitarnya. Menurutnya, kemudahan penyimpanan, kepraktisan penyajian, serta cita rasa yang tetap terjaga menjadi daya tarik tersendiri bagi konsumen.
Dalam sehari, Isnaini dapat memproduksi sekitar 500 lemper sesuai pesanan, dengan kebutuhan 10 sampai 12 kilogram ketan. Pemasaran masih dilakukan dari mulut ke mulut, terutama kepada masyarakat sekitar Sanden dan Bantul. Meski demikian, lemper frozen buatannya telah dibawa hingga Kalimantan, Jambi, bahkan dalam beberapa bulan terakhir sampai ke Australia. (Ag-Ami)





