Keliling Pabrik Gula Pakai Kereta Tua, Begini Serunya Agrowisata di PT Madubaru

Deru mesin diesel disusul derak roda kereta bergerak pelan membelah jalanan di sekitar Padokan, Tirtonirmolo, Kasihan, Bantul. Kereta lawas berusia 71 tahun produksi Jerman Timur yang kerap disebut kereta lori ini masih aktif beroperasi di PT Madubaru (PG-PS Madukismo), baik sebagai pengangkut tebu maupun mengantar wisatawan berkeliling pabrik gula.

Kekinian, selain memproduksi gula dan spiritus, PT Madubaru memang menawarkan agrowisata yang mengajak wisatawan mengintip bagaimana tebu diolah di dalam pabrik. Keseruan agrowisata ini dimulai sejak wisatawan merasakan sensasi unik menaiki kereta lori yang bergerak dengan kecepatan 10-15 km/jam.

Dengan kecepatan tersebut, wisatawan bisa dengan seksama melihat truk-truk berjajar di bawah pohon trembesi yang ada di luar pabrik. Truk-truk tersebut membawa berton-ton tebu yang berasal dari DIY dan Jawa Tengah, untuk kemudian dilangsir ke dalam pabrik.

Usai menaiki kereta lori yang sanggup membawa 15 gerbong, wisatawan berhenti di tempat penggilingan tebu yang terletak di sisi timur pabrik. Pada proses ini, wisatawan bisa menyaksikan langsung bagaimana alat-alat mega besar mencacah tebu untuk memisahkan bagian yang padat dan cair.

“Ini alat-alatnya juga sudah ada sejak dulu. Dibuat oleh Jerman Timur. Negaranya sudah tidak ada, tapi mesinnya masih bertahan di sini,” ujar Koordinator Pengembangan Aset PT Madubaru, Mahmud Safrudin, sembari menunjuk tanggal pembuatan mesin.

Lebih lanjut, Mahmud menjelaskan, memasuki musim giling atau produksi yang jatuh pada Bulan April-Oktober, PT Madubaru dapat menggiling 3.500 ton tebu per hari.

“Dari proses penggilingan, didapatkan nira atau air tebu. Selain itu proses ini juga menghasilkan limbah pertama berupa ampas tebu yang dapat digunakan sebagai bahan bakar di stasiun ketel,” jelas Mahmud.

Nira yang didapat dari proses penggilingan lantas dimurnikan melalui proses sulfitasi. Fungsinya untuk mengikat kotoran agar nira menjadi jernih. Endapan dari proses ini menghasilkan limbah kedua yang disebut blotong. 

Blotong ini sekarang kami manfaatkan untuk dijadikan pupuk organik ke lahan tebu,” imbuh Mahmud.

Selepas pemurnian air tebu, wisatawan diajak memasuki area yang menampakkan ketel raksasa. Di sinilah proses evaporasi atau penguapan dilakukan. Pada proses evaporasi, kadar air pada nira berkurang dan nantinya akan mengental seperti sirup. Selanjutnya, nira yang telah mengental akan memasuki proses kristalisasi dan proses putaran (sentrifugasi) untuk menghasilkan produk utama, yakni gula pasir.

“Di proses terakhir itu pula kita mendapatkan molase atau orang-orang sering menyebutnya tetes tebu. Di tempat lain, molase dijadikan bahan baku MSG. Tapi kalau di PT Madubaru, kami olah menjadi alkohol dengan kadar 95%. Tidak dijual bebas, ya. Ini hanya untuk kebutuhan kosmetik dan farmasi,” papar Mahmud.

Terakhir, wisatawan akan melihat bagaimana pengemasan gula berlangsung. Sebagian dikemas dalam bentuk karung, sebagian lagi dalam kemasan lebih kecil untuk kebutuhan ritel. Dalam sehari, rata-rata PT Madubaru menghasilkan 250 ton gula pasir.

Terkait agrowisata, Mahmud menyarankan untuk mengambil paket ini saat musim giling. Kereta lori beroperasi empat kali sehari mulai pukul 07.00 dan terakhir pada pukul 14.00. Tiket kereta dipatok Rp13.000 per orang dengan minimal 30 peserta. Apabila kurang dari 30 orang, bisa mengambil paket khusus sebesar Rp450.000. Untuk pemesanan dan info lebih lanjut, sila mengontak via akun Instagram PT Madubaru di @madubaru_official (Els)

Berbagi:

Pos Terbaru :