Memperingati Hari Batik Nasional, Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Bantul menggelar Workshop Membatik Sapu Tangan bertajuk “Bersama Pembatik Milenial – Canting Milenial, Batik Kekinian”, Sabtu (10/10). Kegiatan berlangsung di Showroom Dekranasda Kabupaten Bantul, Ringinharjo, Bantul.
Workshop ini bertujuan mengenalkan proses membatik kepada generasi muda sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap batik sebagai warisan budaya dan identitas bangsa Indonesia.
Pengurus Harian Dekranasda Kabupaten Bantul, Drs. H. Yahya, dalam sambutannya menegaskan pentingnya melibatkan generasi muda agar tradisi membatik tetap lestari.
“Jangan sampai batik yang merupakan warisan budaya bangsa ini hilang. Batik Indonesia telah diakui UNESCO, sehingga menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga dan mewariskannya kepada generasi penerus,” ungkap Yahya.
UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda (Intangible Cultural Heritage/ICH) pada 2 Oktober 2009 dalam sidang keempat Komite Antar-Pemerintah di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Pengakuan ini menjadi kebanggaan sekaligus pengingat pentingnya menjaga keberlangsungan tradisi membatik.
Yahya juga menyoroti peran Yogyakarta sebagai salah satu pusat tradisi batik. Keberadaan sentra batik di Kabupaten Bantul menjadi peluang bagi generasi muda untuk belajar langsung dari para pembatik dan mengembangkan kreativitas.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kabupaten Bantul, Hj. Emi Masruroh Halim, M.Pd., menyampaikan bahwa pengembangan batik perlu berjalan seiring dengan inovasi agar tetap diminati generasi muda.
“Kami ingin generasi muda tidak hanya mengenal batik sebagai warisan budaya, tetapi juga ikut merasakan proses kreatifnya. Dengan belajar membatik secara langsung, mereka dapat memahami nilai, keterampilan, dan kreativitas yang terkandung di dalamnya,” ujarnya.
Salah satu narasumber, Ari, pembatik muda, menyampaikan materi mengenai teknik pembuatan batik, mulai dari pengenalan proses membatik hingga penggunaan canting dalam menghasilkan motif pada kain. Ia mengaku bangga dapat terlibat dalam kegiatan tersebut sebagai bagian dari upaya melestarikan batik Indonesia.
Bagi Ari, berbagi pengetahuan tentang membatik kepada generasi muda merupakan kesempatan untuk mengenalkan keterampilan tradisional sekaligus menumbuhkan minat terhadap dunia batik. Keterlibatan anak muda diharapkan dapat menjaga kesinambungan keterampilan membatik dan mendorong lahirnya kreativitas baru.
Melalui praktik membatik sapu tangan, peserta diajak mengenal teknik membatik sekaligus mengembangkan kreativitas. Kegiatan ini juga menjadi ruang pertemuan antara generasi muda, pembatik, dan pelaku Industri Kecil dan Menengah (IKM) batik. (rch)




