Di salah satu sudut dapur sederhana di Wonorejo, Gadingsari, Sanden, Muryati (54) tampak fokus pada permukaan belakang anglo—perapian atau tungku kecil dari tanah liat yang ia gunakan untuk membuat kulit sagon. Matanya tidak lepas dari ayakan halus tepung beras ketan yang ia tuang ke permukaan belakang anglo.
“Ini proses yang paling sulit. Tidak boleh terlalu lama, tidak boleh terlalu cepat,” ujar Muryati sembari membalik adonan kulit sagon yang terbuat dari tepung beras ketan.
Dikatakan sulit karena tidak ada patokan waktu tertentu kapan adonan kulit sagon perlu dibalik dan dikatakan matang. Kendati sulit, Muryati tetap mempertahankan cara tradisional ini. Selain unik, cara ini disinyalir bisa menjaga keawetan sagon lebih lama.
“Dulu pernah coba pakai teflon, pakai kompor. Tapi teksturnya berbeda. Kematangannya berbeda. Sagon lebih tahan lama dimasak dengan anglo dan kayu bakar,” imbuh Muryati.
Kesulitan proses membuat kulit sagon ini juga diakui Vikdal (30) yang biasanya membantu membuat sagon gulung. Dirinya pernah mencoba, tapi belum berhasil. Vikdal meyakini keahlian Muryati dalam membuat sagon gulung ini karena tangan Muryati telah terlatih bertahun-tahun.
Bagi Muryati sendiri, memproduksi sagon gulung bukan hal baru. Ia telah melakukannya sejak tahun 1997. Pernah mengalami kejayaan dengan pesanan ribuan sagon, sebelum akhirnya dihantam pandemi Covid. Kini, ia tetap berusaha mempertahankan produksi sagon gulung dengan jenama Sagon Gulung Makmur walau tidak seperti dulu.
Dalam seminggu, Muryati memproduksi sagon gulung dua hingga tiga kali dalam sepekan. Sekali produksi, Muryati membutuhkan 5 kilogram bahan baku berupa kelapa muda, tepung beras ketan, dan gula jawa. Dari 5 kilogram adonan ini, dihasilkan 250 sagon yang dibanderol Rp2.000 per biji.
Hasil akhir sagon buatan Muryati juga berbeda dengan sagon lain. Jika pada umumnya sagon berbentuk lingkaran pipih atau setengah pipih, sagon gulung Muryati berbentuk silinder dengan panjang mirip seperti lemper. Untuk penjualan, Sagon Gulung Makmur bisa ditemui di Pasar Celep atau di warung-warung sekitar Wonorejo.
“Dipasarkan di sekitar sini saja. Kadang-kadang ada pesanan juga,” ujar Muryati.
Untuk pemesanan, bisa langsung mendatangi atau mengontak terlebih dahulu. Terutama apabila pesanan tersebut digunakan sebagai hantaran pernikahan atau oleh-oleh. (Els)





