Ribuan Hafidzah Hadiri Silanas III JMQH, Bupati: Bantul Akan Mendapat Berkah dari Al-Qur’an

Ribuan hafidzah dari berbagai daerah di Indonesia dan Malaysia menghadiri Khataman Al-Qur’an bil Hifzhi dan Silaturahim Nasional III (Silanas III) Jam’iyyah Mudarasatil Qur’an lil Hafizhat (JMQH). Acara ini dihelat selama 2 hari, Sabtu-Minggu (17-18/10) di Stadion Sultan Agung, Bantul.

Kegiatan Silaturahmi Nasional III turut dihadiri oleh sejumlah tokoh penting termasuk Bupati Bantul Abdul Halim Muslih, Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin, dan Menteri Agama RI periode 2001-2004, Sayid Agil Husin Almunawar.

Bupati Bantul Abdul Halim Muslih menyambut gembira penyelenggaraan kegiatan yang mempertemukan para penghafal Al-Qur’an dari berbagai daerah hingga Malaysia. Menurutnya, kehadiran ribuan hafidzah menjadi kebanggaan bagi Bantul, yang memiliki sejarah panjang dalam perkembangan peradaban Islam di Jawa.

Halim mengaitkan sejarah tersebut dengan peran Bantul dalam perjalanan Kerajaan Mataram Islam. Ia menyampaikan bahwa kawasan Bantul pernah menjadi pusat pemerintahan Mataram Islam sebelum perkembangan kerajaan berlanjut pada masa Sultan Agung Hanyakrakusuma.

“Sekitar tahun 1500 memilih Bantul sebagai pusat Kerajaan Mataram Islam, dilanjutkan cucunya, Sultan Agung Hanyakrakusuma, sehingga Mataram Islam menyebar tidak hanya di Indonesia, bahkan di dunia internasional,” ungkapnya.

Ia berharap kehadiran para hafidzah dan kegiatan yang berpusat pada Al-Qur’an membawa keberkahan bagi Kabupaten Bantul.

Di sisi lain, Silanas III menjadi ruang bagi JMQH untuk menyatukan langkah dalam menjaga hafalan dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an. Ketua Umum JMQH Pusat, Maftuhah Mannan Minan, menekankan bahwa pertemuan tersebut harus menghasilkan kesamaan visi dan pengabdian yang dilandasi keikhlasan.

“Bukan sekadar silaturahim bersama, bukan sekadar kumpul-kumpul biasa, tetapi menyatukan hati, menyatukan visi, menyatukan langkah, menyatukan khidmah, menyatukan keikhlasan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala,” tuturnya.

Menurut Maftuhah, JMQH memiliki peran dalam menjaga hafalan para anggotanya melalui mudarasah, yaitu kegiatan saling menyimak dan menguatkan hafalan Al-Qur’an. Karena itu, ia mengingatkan agar aktivitas organisasi tetap berpegang pada tujuan pengabdian, bukan hanya pada pelaksanaan kegiatan seremonial.

“Roh perjuangan di dalam amal itu ibarat bentuk yang berdiri, sedangkan ruhnya adalah keikhlasan. Ini harus menjadi pedoman kita. Kalau kehilangan keikhlasan, kehilangan rohnya, maka mari kita luruskan niat,” pesannya.

Peran para hafidzah dalam menjaga Al-Qur’an ini selanjutknya diharapkan menjangkau kehidupan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Menko Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menilai, nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi landasan bagi JMQH untuk berkontribusi terhadap kesejahteraan masyarakat di lingkungan masing-masing.

“Kita harus terus mengembangkan potensi pemberdayaan masyarakat dengan basis Al-Qur’an, sehingga kehadiran JMQH tidak hanya menjaga hafalan, tetapi juga menjadi motor penggerak bagi kesejahteraan dan kemaslahatan umat di lingkungannya masing-masing,” ujarnya.

Selain silaturahmi dan khataman Al-Qur’an, rangkaian Silanas III JMQH juga diisi dengan Musabaqah Hifzul Qur’an (MHQ) 30 Juz dan Tafsir. Babak final yang berlangsung pada Sabtu malam (17/10) diikuti enam peserta dari kalangan anggota JMQH, setelah melalui tahapan penyisihan dan semifinal. (Hahn)

Berbagi:

Pos Terbaru :