Targetkan Generasi Muda, KPU Bantul dan UMY Luncurkan Teka-Teki Demokrasi

Pola pikir generasi muda, terutama usia SMA, sering kali sangat dinamis. Karena itu, mereka memerlukan edukasi demokrasi yang praktis dan tidak konvensional. Hal tersebut disampaikan Sekretaris Daerah Kabupaten Bantul, Agus Budiraharja, dalam peluncuran Teka-Teki Demokrasi: Cerdas Pemilu oleh KPU Bantul bersama UMY di Ruang Amphitheater UMY pada Rabu (20/5).

Menurut Agus, konsep belajar melalui teka-teki mampu menghadirkan pengalaman pembelajaran yang lebih aplikatif dibanding sekadar menghafal materi. Setelah meninjau Teka-Teki Demokrasi, ia menilai narasi dalam media tersebut telah disusun secara lengkap dan mudah dipahami.

“Dengan teka-teki ini, belajarnya adalah belajar berimplementasi. Belajar kasus, belajar yang tidak sekadar menghafalkan. Sekilas saya baca tadi materinya luar biasa karena di situ narasinya sangat lengkap,” ungkapnya.

Dalam kesempatan itu, Agus juga mendorong keterlibatan generasi muda, khususnya pelajar SMA, untuk memberikan masukan terhadap pengembangan media edukasi demokrasi tersebut. Menurutnya, pendekatan kepada pelajar perlu disesuaikan dengan dinamika dan pola pikir generasi mereka agar pesan demokrasi lebih mudah diterima.

Ketua KPU Bantul, Joko Santosa, menjelaskan Teka-Teki Demokrasi dirancang agar generasi muda dapat belajar demokrasi secara sederhana tanpa harus membaca buku-buku tebal. Pendekatan semacam itu dinilai penting agar pendidikan politik mampu bersaing dengan derasnya konten digital yang dikonsumsi generasi muda setiap hari.

Ia menambahkan, penguatan literasi demokrasi menjadi bagian penting untuk mewujudkan demokrasi yang lebih substantif. Menurutnya, kualitas demokrasi tidak hanya ditentukan oleh pelaksanaan pemilu, tetapi juga oleh tingkat pemahaman masyarakat terhadap makna demokrasi itu sendiri.

“Ini adalah ikhtiar agar demokrasi ke depan nanti tidak hanya menjadi demokrasi yang sifatnya tertulis saja, tetapi lebih substansial. Seorang ahli politik, Robert Dahl, pernah mengatakan demokrasi tidak sah jika pemilih dalam keadaan tidak mengerti apa itu demokrasi,” ucapnya.

Dukungan penuh juga datang dari Kaprodi Ilmu Pemerintahan UMY, Awang Darumurti. Ia menilai media pembelajaran seperti Teka-Teki Demokrasi dapat menjadi sarana untuk menjembatani teori dengan praktik pendidikan politik di masyarakat. Dengan pendekatan yang ringan dan interaktif, seluruh kalangan, terutama generasi muda, dinilai lebih mudah memahami substansi demokrasi, khususnya pemilu.

Diketahui, Teka-Teki Demokrasi mulai disusun empat bulan lalu oleh dua mahasiswa UMY yang tengah menjalani program magang di KPU Bantul. Menurut Awang, mahasiswa selama ini telah memperoleh materi teoritis sehingga membutuhkan ruang aktualisasi yang lebih praktis. Karena itu, karya seperti Teka-Teki Demokrasi dapat menjadi sarana untuk menjembatani teori dengan praktik pendidikan politik di masyarakat. (Hahn)

 

Berbagi:

Pos Terbaru :