Pemerintah Kabupaten Bantul memperingati Peristiwa Sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta Tahun 2026 dengan cara yang berbeda. Tak hanya seremoni, sejarah dikemas lewat talkshow interaktif untuk mendekatkan nilai-nilai masa lalu kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan bertajuk Menggali dan Merawat Jejak Sejarah Bantul untuk Meneguhkan Keistimewaan DIY digelar di Lapangan Jambidan, Kamis (9/9/2026) malam. Dua narasumber dihadirkan untuk mengupas sejarah dari sudut yang lebih dekat dengan kehidupan hari ini, Nanang Setiawan, S.S., M.A, Dosen Ilmu Sejarah UNY, dan Ardiman Djoyonegoro, S.Sn, Pemerhati Budaya.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, dalam sambutannya menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar untuk diingat tanggal dan peristiwanya. Yang lebih penting adalah nilai di dalamnya.
“Kita tidak hanya ingin mengingat peristiwanya, tetapi juga memahami semangat yang terkandung di dalamnya. Semangat perjuangan, persatuan, gotong royong, dan cinta pada daerah, itu nilai-nilai yang masih sangat relevan untuk kita jalani sekarang,” ujar Wabup.
Menurutnya, tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana membuat sejarah tidak terasa jauh dan membosankan. Di era digital, media sosial dan konten kreatif bisa menjadi jembatan.
“Generasi muda perlu tahu, kenyamanan yang kita rasakan hari ini adalah hasil dari perjuangan generasi sebelumnya. Karena itu sejarah harus terus diceritakan, dengan cara-cara yang sesuai zaman. Bisa lewat diskusi seperti ini, lewat konten digital, atau kegiatan kreatif lainnya,” imbuhnya.
Talkshow ini juga menjadi bagian dari upaya Pemkab Bantul memperkuat literasi sejarah. Dengan mengenal sejarah lokal, masyarakat diharapkan lebih paham identitas dan karakter daerahnya. Sekaligus tumbuh kepedulian untuk menjaga peninggalan sejarah dan budaya di DIY.
Lebih jauh, penguatan pemahaman sejarah juga dilihat sebagai langkah mendukung pelestarian budaya dan pengembangan wisata sejarah. Bantul memiliki banyak situs dan jejak sejarah yang jika dikelola dengan baik, bisa menjadi ruang edukasi sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat.
Melalui peringatan ini, Pemkab Bantul mengajak semua pihak untuk tidak menempatkan sejarah hanya sebagai cerita masa lalu. Sejarah adalah sumber nilai untuk membentuk karakter, menjaga jati diri, dan menuntun langkah ke depan. (ADS)




